TVRINews, Jakarta
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) M. Firman Hidayat melaporkan uji coba digitalisasi perlindungan sosial (Perlinsos) telah menjangkau seluruh 514 kabupaten/kota di Indonesia. Hingga saat ini, sebanyak 11,5 juta kepala keluarga (KK) telah terdaftar dalam program tersebut.
Firman menyampaikan perkembangan itu dalam laporan rekomendasi DEN kepada Presiden Prabowo Subianto. Program Perlinsos Digital juga didukung 775.000 agen yang membantu warga mendaftar sebagai calon penerima bantuan sosial.
“Kalau kita lihat data hariannya, sudah lebih dari 600.000 pendaftar yang mendaftar di portal Perlinsos per hari,” kata Firman, Selasa, 20 Oktober 2026.
Ia mengatakan studi percontohan di Bali menunjukkan digitalisasi Perlinsos berpotensi meningkatkan ketepatan sasaran bantuan.
Berdasarkan hasil studi tersebut, exclusion error atau kesalahan mengecualikan warga yang seharusnya menerima bantuan turun 24,1 persen, sedangkan inclusion error atau kesalahan memasukkan warga yang tidak memenuhi kriteria penerima tercatat sebesar 4,1 persen.
“Jadi artinya, digitalisasi Perlinsos ini mampu membuat proses bansos lebih transparan dan juga lebih tepat sasaran,” ujar Firman.
Selain Perlinsos Digital, DEN menyampaikan hasil studi mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kajian tersebut dilakukan menggunakan modul khusus dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang disusun DEN bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah lembaga lain sejak tahun lalu.
Studi itu mengamati sejumlah indikator, mulai dari tingkat absensi siswa, semangat belajar, hingga rasa lapar di sekolah.
Menurutnya, hasil kajian menunjukkan siswa penerima MBG cenderung lebih jarang absen dibandingkan siswa yang tidak menerima program tersebut.
Perbedaan itu terlihat lebih besar pada kelompok siswa dari keluarga paling miskin. DEN juga menemukan bahwa penurunan absensi semakin besar seiring dengan meningkatnya intensitas penerimaan MBG di sekolah.
“Jadi ketika dia non-penerima MBG, dia akan sering absen, sementara kalau penerima MBG dia akan relatif tidak absen ke sekolah. Ini semakin tinggi berkurangnya absen seiring dengan intensitas penerimaan MBG di sekolahnya,” ucap Firman.
Namun, Firman menekankan bahwa kualitas makanan menjadi faktor penting dalam mendukung manfaat MBG terhadap semangat belajar siswa.
Berdasarkan studi tersebut, 95 persen siswa penerima MBG menyatakan semangat belajarnya lebih tinggi ketika kualitas menu yang diterima sangat baik. Sebaliknya, angka tersebut turun ketika kualitas menu dinilai buruk.
“Artinya memang salah satu rekomendasi kami ke Bapak Presiden yang tadi kami sampaikan, perlu diperhatikan kualitas menu MBG karena ini berkorelasi dengan rasa lapar dan semangat belajar anak di sekolah,” tutur Firman.
DEN juga mencatat distribusi penerima MBG per September masih lebih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dibandingkan perdesaan. Selain itu, siswa dari kelompok ekonomi lebih mampu masih menerima program dalam jumlah lebih besar dibandingkan siswa dari kelompok miskin.
Firman menilai penyaluran MBG perlu lebih memprioritaskan masyarakat miskin, wilayah perdesaan, serta daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Menurutnya, hasil kajian DEN menunjukkan MBG berpotensi mengurangi absensi siswa, meningkatkan semangat belajar, dan mengurangi rasa lapar selama mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Namun, kualitas menu dan pemerataan penerima perlu menjadi perhatian agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas.










