TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan tegaskan demokrasi RI harus berakar pada budaya lokal seperti gotong royong dan musyawarah.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara peradaban (civilizational state) yang memiliki kekayaan budaya luar biasa, atau cultural mega diversity. Hal itu disampaikannya dalam perayaan Satu Dasawarsa Pergerakan Indonesia Maju (PIM) di Jakarta.
Fadli Zon merefleksikan nilai 3K (Kemanusiaan, Kemajemukan, dan Kebersamaan) yang diusung oleh PIM sebagai hal yang sejalan dengan Pasal 32 Ayat 1 UUD 1945 mengenai kewajiban negara memajukan kebudayaan nasional.
"Indonesia ini adalah negara yang saya perkenalkan satu istilah baru. Yaitu mega diversity, cultural mega diversity, yang kekayaan budaya dan keberagamannya ini luar biasa banyaknya," ungkap Fadli Zon dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat, 22 Mei 2026.
Fadli Zon menyatakan, kekayaan budaya ini harus menjadi momentum untuk menemukan kembali identitas asli bangsa (reinventing Indonesian identity).
Ia juga menekankan pentingnya demokrasi yang berakar pada budaya lokal seperti gotong royong, musyawarah, dan toleransi, sebagaimana dicita-citakan Bung Hatta.
"Indonesia ini menurut saya tidak pantas juga disebut sebagai bangsa yang lahir dari nation state, tapi sebenarnya dari civilizational state (negara peradaban), bukan negara sekadar state biasa," tegasnya.
JK Tekankan Disiplin, Din Syamsuddin Soroti Kemungkaran Struktural
Acara bertajuk "Wawasan Kebangsaan dan Tantangan Bangsa" ini turut dihadiri Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla, yang menekankan pentingnya disiplin dan kejujuran dalam memajukan bangsa.
"Tidak mungkin ada akhlak atau budaya yang dicapai tanpa disiplin. Memajukan kesejahteraan umum dengan disiplin, dengan kejujuran, dengan persatuan," tutur JK.
Sementara itu, Ketua Umum PIM sekaligus tokoh nasional, Din Syamsuddin, menutup acara dengan menegaskan posisi organisasi yang dibentuknya. Ia menyatakan bahwa PIM berkomitmen untuk tidak tinggal diam menghadapi kemungkaran struktural di tanah air.
"Kita ingin memberikan solusi, diterima atau tidak diterima, sambil menggalang kesadaran kolektif dari bangsa ini bahwa kebersamaan yang lahir dari kemajemukan adalah jawaban bagi Indonesia masa depan," pungkas Din.










