TVRINews – Jakarta
Dunia Semakin Mendekati Titik Nadir Bencana Iklim Global Akibat Pemanasan Global yang Terus Meningkat
Bumi kini berada di ambang era ekstrem iklim baru. Sejumlah ilmuwan memperingatkan bahwa umat manusia harus bersiap menghadapi guncangan yang jauh lebih besar akibat perubahan iklim, seiring dengan meningkatnya suhu global dan krisis cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di berbagai belahan dunia.
Dalam ulasan mendalam yang merujuk pada laporan dan analisis Internasional global, para ahli iklim menyatakan bahwa akumulasi gas rumah kaca selama lebih dari 150 tahun telah mengubah sistem cuaca planet ini secara permanen.

(Arus lalu lintas diselimuti kabut asap di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, pada 20 Agustus 2026. (Foto: REINA/AFP))
Karbon dioksida yang terperangkap di atmosfer selama berabad-abad membuat kerusakan yang terjadi saat ini memerlukan waktu ratusan tahun untuk dapat dipulihkan.
"Risikonya adalah orang-orang mengira Anda hanya melebih-lebihkan," ujar Daniel Swain, seorang ilmuwan iklim di California Institute for Water Resources, menggambarkan tantangan dalam menyampaikan urgensi krisis ini kepada publik. "Ini masalah 'Anak Gembala yang Berbohong'. Terkadang serigala itu benar-benar ada di luar pintu. Tidakkah Anda ingin tahu?"
Dampak dari kenaikan suhu global ini bukan lagi sekadar proyeksi fiksi ilmiah. Sepanjang dekade terakhir, dunia telah menyaksikan berbagai bencana berskala masif, mulai dari kebakaran hutan "Black Summer" di Australia pada 2019 hingga 2020, banjir sepertiga wilayah Pakistan pada 2022, hingga hantaman Badai Milton dan Helene di Amerika Serikat pada 2024, serta Indonesia pun tak luput dari ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terdeteksi ribuan titik panas di berbagai wilayah Nusantara.

(Sungai Amazon yang menunjukkan tanda-tanda kekeringan di Santa Sofia, di pinggiran kota Leticia, Kolombia (Foto: AP Photo/Ivan Valencia))
Sarah Perkins-Kirkpatrick, seorang ilmuwan iklim dari Australian National University, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa bencana iklim tidak akan berhenti meskipun emisi global berhasil mencapai titik nol bersih (net zero) dalam waktu dekat.
"Ini seperti masalah katak dalam air yang mendidih," kata Perkins-Kirkpatrick. "Jika kita terbiasa terus-menerus bersiap menghadapi bencana, apakah kita masih akan menyadari bahayanya?"
Para pakar menegaskan bahwa mitigasi dan kesiapsiagaan infrastruktur global masih jauh dari kata memadai. Di tengah meningkatnya risiko, penyangkalan terhadap perubahan iklim kerap menjadi mekanisme pertahanan psikologis bagi sebagian kalangan, termasuk di tingkat pemerintahan.

(Seorang pekerja menggunakan pelampung darurat saat membersihkan lautan sampah yang terbawa oleh hujan monsun di kota Paranaque, Filipina, 11 Agustus 2026. (AP Photo/Aaron Favila, Arsip))
Kendati demikian, sains menunjukkan bahwa bencana berskala besar bukanlah lagi soal "apakah" akan terjadi, melainkan "kapan" malapetaka tersebut akan melanda.
Tim Lenton, seorang profesor ilmu iklim di Universitas Exeter, menyimpulkan bahwa pengabaian terhadap skenario terburuk hanya akan memperparah keadaan. "Kita perlu membicarakan beberapa hal terburuk yang bisa terjadi," ujarnya. "Adalah hal yang wajar untuk berpikir bahwa guncangan yang lebih besar sedang dalam perjalanan."
Seperti pada pembukaan novel fiksi spekulatif karya penulis Amerika, Kim Stanley Robinson, “The Ministry for the Future”, sebuah gelombang panas ekstrem yang dibarengi kelumpuhan jaringan listrik di India telah merenggut nyawa 20 juta jiwa. Tragedi kemanusiaan berskala kolosal tersebut akhirnya memaksa bangsa-bangsa di dunia (PBB) untuk bersatu melawan perubahan iklim.

(Rumah warga porak-poranda dilalap kebakaran hutan di Valle de Iruelas, Spanyol, 30 Juli 2026. (AP Photo/Manu Fernandez, Arsip))
Apa yang dahulu dipandang sebagai ranah fiksi ilmiah kini menjelma menjadi probabilitas, bahkan sebuah keniscayaan yang menghantui peradaban modern. Para ilmuwan telah lama memperingatkan bahwa bumi akan terus mengalami intensifikasi cuaca ekstrem, mulai dari gelombang panas berkepanjangan, badai destruktif, banjir bandang, hingga kekeringan parah.
Namun, peringatan dini mengenai anomali cuaca ekstrem seringkali diabaikan karena hambatan psikologis manusia yang enggan memikirkan skenario terburuk.










