TVRINews, Tangerang Selatan
Program kerja sama IAEA dan KINS bahas integrasi aspek keselamatan mulai dari karakteristik tapak hingga evaluasi kedaruratan nuklir.
Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dari Pusat Riset Teknologi Keselamatan, Metrologi dan Mutu Nuklir (PRTKMMN), Khusnul Khotimah, baru saja memperdalam pengetahuan strategis mengenai keselamatan nuklir.
Ia mengikuti Basic Training Course on Nuclear Safety yang diselenggarakan oleh International Atomic Energy Agency (IAEA) bekerja sama dengan Korea Institute of Nuclear Safety (KINS) di Daejeon, Korea Selatan, pada 31 Agustus hingga 11 September 2026.
Khusnul mengungkapkan bahwa pelatihan intensif ini memberikan pemahaman mendalam bahwa aspek keselamatan nuklir harus dikaji secara komprehensif, terintegrasi, dan tidak dipandang secara terpisah-pisah.
“Pelatihan ini memberikan pemahaman bahwa keselamatan nuklir perlu dilihat secara terintegrasi, mulai dari karakteristik tapak, desain dan safety assessment, hingga konsekuensi radiologis serta perlindungan masyarakat dan lingkungan. Pembelajaran dari Korea menjadi salah satu referensi yang dapat dikaji dan disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia,” ujar Khusnul dalam keterangannya di Serpong, Selasa, 15 September 2026.
Penguatan Riset dan Simulasi PLTN APR-1400
Melalui keikutsertaannya dalam program yang diikuti oleh delegasi dari berbagai negara tersebut, Khusnul menilai banyak ilmu teknis yang relevan untuk mendukung pengembangan riset di lingkungan BRIN. Terutama dalam bidang evaluasi tapak, analisis keselamatan, pemodelan dispersi atmosfer, penilaian dosis dan konsekuensi radiologis, hingga kesiapsiagaan serta respons kedaruratan nuklir.
Selain materi kelas, para peserta juga mendapatkan kesempatan berharga melalui peninjauan teknis (technical tour) serta pemanfaatan simulator Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) APR-1400 milik KINS. Di fasilitas simulasi ini, peserta mempelajari secara langsung bagaimana sistem keselamatan dan operator merespons skenario kecelakaan kompleks seperti:
* Loss of Off-site Power (LOOP) atau kehilangan daya eksternal.
* Loss of Coolant Accident (LOCA) atau kecelakaan kehilangan pendingin.
* Station Blackout (SBO) atau lumpuhnya seluruh pasokan daya listrik stasiun.
“Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting mengenai bagaimana aspek keselamatan, kesiapan sumber daya manusia, sistem pendukung, dan koordinasi antar lembaga yang dibangun secara terpadu,” tambahnya.
Tindak Lanjut dan Transfer Pengetahuan di BRIN
Sebagai langkah konkret sepulang dari Korea Selatan, BRIN berkomitmen untuk memastikan pengetahuan baru ini tidak berhenti pada level personal.
BRIN berencana mendorong mekanisme berbagi pengetahuan (knowledge sharing) melalui forum internal, penyusunan produk pengetahuan (knowledge products), publikasi ilmiah, serta perluasan jejaring kerja sama strategis dengan IAEA, KINS, perguruan tinggi, badan regulator, dan institusi teknis terkait.
Khusnul berharap, langkah penguatan kapasitas ini dapat menjadi fondasi penting dalam mendukung pengembangan teknologi nuklir yang aman, andal, dan berstandar internasional di Indonesia.










