TVRINews, Jakarta
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Sugiono mendorong ASEAN Plus Three (APT) memperkuat ketahanan kawasan sebelum krisis terjadi, bukan hanya meningkatkan kemampuan untuk merespon krisis.
Menurut Sugiono, hampir tiga dekade kerja sama APT telah membuktikan bahwa hasil nyata, bukan retorika, menjadi kekuatan utama mekanisme tersebut.
“APT lahir dari krisis. Masa depannya harus ditentukan oleh ketahanan yang kita bangun sebelum krisis terjadi,” kata Sugiono, dikutip dari siaran persnya, Jumat, 24 Juli 2026.
Di tengah disrupsi global yang semakin cepat memengaruhi pasar energi, pasokan pangan, dan rantai pasok kawasan, Sugiono menekankan pentingnya kemampuan APT untuk terus berinovasi agar dapat menghasilkan manfaat bagi seluruh negara anggotanya.
Dalam ketahanan pangan, Indonesia mendorong pengembangan ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve (APTERR) menjadi platform regional yang lebih luas. Kerja sama tersebut perlu mencakup inovasi pertanian, penguatan rantai pasok pangan, dan diversifikasi cadangan pangan kawasan.
Di bidang keuangan, Sugiono menekankan bahwa hasil kerja sama APT perlu dimanfaatkan secara maksimal. Ia juga menyoroti Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM), skema jaring pengaman finansial kawasan.
"Indonesia menyambut baik perkembangan CMIM untuk mengimplementasikan Rapid Financing Facility (RFF) dan pengesahan roadmap menuju mekanisme penggunaan yang lebih efektif," ucap Sugiono.
Selain itu, ia jua menekankan pentingnya membangun arsitektur kawasan yang kuat dengan berlandaskan Treaty on Amity and Cooperation dan ASEAN Outlook on Indo-Pacific sebagai fondasinya.
Indonesia menegaskan bahwa penguatan Sentralitas ASEAN akan memperkokoh kepercayaan terhadap APT dan kontribusinya bagi perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran kawasan.
ASEAN Plus Three dibentuk pada 1997 dan mempertemukan negara-negara anggota ASEAN dengan Republik Rakyat Tiongkok, Jepang, dan Republik Korea. Pertemuan ke-27 Menteri Luar Negeri APT merupakan bagian dari rangkaian AMM/PMC ke-59 di Filipina dan membahas kerja sama politik-keamanan, ekonomi dan keuangan, pangan, energi, kesehatan, serta hubungan antarmasyarakat.









