TVRINews, Jambi
Pemerintah pusat terus memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas, termasuk Provinsi Jambi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoptimalkan dukungan bagi Satgas Darat dan Satgas Udara melalui operasi gabungan di wilayah terdampak.
Hal tersebut disampaikan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto saat memimpin rapat koordinasi teknis penanganan karhutla di Bandara Sultan Thaha Saifuddin, Kota Jambi. Dalam rapat tersebut, ia mengungkapkan BNPB akan memberikan dukungan keuangan berupa uang semangat bagi personel gabungan yang terlibat dalam penanganan karhutla, mulai dari TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, relawan, hingga masyarakat.
“Memang kesimpulannya, dari sejumlah analisa dari lapangan, Satgas Darat ini harus maksimal. Sehingga kami akan siapkan dukungan keuangan,” kata Suharyanto kutip Kamis, 3 September 2026.
Menurutnya, penguatan Satgas Darat menjadi strategi utama karena dinilai paling efektif dalam memadamkan api. Saat ini, sebanyak 5.984 personel diterjunkan untuk melakukan pemadaman dan pendinginan di berbagai titik karhutla.
“Berdasarkan analisa operasi-operasi yang telah dilaksanakan, Satgas Darat ini memang cara paling efektif dalam pemadaman. Sehingga penguatan Satgas Darat perlu dilakukan untuk mendukung operasi pemadaman,” ujarnya.
Selain di darat, BNPB juga mengoptimalkan operasi udara dengan mengerahkan dua unit helikopter patroli, empat unit helikopter water bombing, serta melanjutkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Suharyanto menginstruksikan agar OMC tetap dilaksanakan meski potensi pertumbuhan awan hujan relatif kecil. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengantisipasi meluasnya karhutla sekaligus membantu memperbaiki kualitas udara melalui potensi turunnya hujan.
Ia juga meminta seluruh helikopter water bombing dapat difokuskan pada satu lokasi apabila diperlukan, sehingga proses pemadaman berlangsung lebih cepat dan efektif.
BNPB turut menyalurkan bantuan logistik dan peralatan kepada BPBD Provinsi Jambi serta sejumlah daerah terdampak, di antaranya Kabupaten Muaro Jambi, Sarolangun, Tanjung Jabung Timur, dan Batanghari.
Hingga pada Selasa, 1 September 2026, luas lahan yang terbakar di Jambi mencapai 1.776,56 hektare. Penanganan saat ini difokuskan pada tujuh titik api dengan total luas 13 hektare. Sebanyak lima hektare telah berhasil dipadamkan, sementara delapan hektare lainnya masih dalam proses pemadaman.
“Mudah-mudahan yang 8 hektare hari ini dipadamkan ini betul-betul padam dan tidak ada lagi titik api,” harap Suharyanto.
Usai rapat koordinasi, Suharyanto bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Gubernur Jambi Al Haris, dan jajaran Forkopimda melakukan patroli udara menggunakan pesawat Cessna Caravan untuk memantau kondisi karhutla.
Dari hasil pemantauan, tim menemukan satu titik api baru di wilayah Lubuk Puso, Kabupaten Batanghari, yang masih berskala kecil. Menurut Suharyanto, patroli udara dilakukan setiap hari untuk mengonfirmasi data titik panas dari sistem SiPongi, sehingga perkembangan karhutla dapat dipantau secara real-time.
BNPB berharap penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah dapat semakin meningkatkan efektivitas penanganan karhutla di Jambi maupun wilayah prioritas lainnya.









