TVRINews, Balikpapan
Program revitalisasi satuan pendidikan yang dijalankan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mulai menunjukkan dampak nyata di Balikpapan, Kalimantan Timur. Selain menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman, program tersebut juga meningkatkan daya tampung sekolah pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), memperkuat budaya literasi, hingga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Program revitalisasi satuan pendidikan yang digulirkan Kemendikdasmen membawa perubahan bagi sejumlah sekolah di Balikpapan. Perbaikan infrastruktur tidak hanya mendukung proses pembelajaran, tetapi juga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah sehingga berdampak pada bertambahnya jumlah peserta didik yang diterima melalui SPMB.
Sepanjang 2025, Balikpapan memperoleh bantuan revitalisasi untuk 10 satuan pendidikan yang terdiri atas satu PAUD, dua SD, tiga SMP, dan empat SMA dengan total anggaran sekitar Rp6,4 miliar.
Salah satu sekolah penerima program tersebut adalah SMP PGRI 2 Balikpapan. Sekolah ini mendapatkan rehabilitasi laboratorium IPA, perbaikan toilet, serta pembangunan dua ruang kelas baru yang membuat kapasitas belajar meningkat.
Kepala SMP PGRI 2 Balikpapan, Rinawati, mengatakan penambahan ruang kelas berdampak langsung pada peningkatan kuota penerimaan murid baru tahun ini.
"Tahun ini kami mengalami peningkatan kuota karena kelas kami bertambah. Tahun kemarin hanya buka untuk 86 siswa, alhamdulillah tahun ini tetap tiga kelas tapi kuotanya bertambah jadi 96 siswa. Sehingga sekarang seluruh kuota sudah terpenuhi," kata Rinawati dalam keterangan yang diterima tvrinews, Senin, 6 Juli 2026.
Menurut Rinawati, bertambahnya ruang belajar memungkinkan sekolah menerima lebih banyak peserta didik sekaligus memenuhi seluruh kuota yang telah ditetapkan pada pelaksanaan SPMB 2025.
Guru SMP PGRI 2 Balikpapan, Irma Yanti, menilai fasilitas baru turut meningkatkan kenyamanan proses belajar mengajar dan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.
"Dampaknya sangat besar sekali dengan adanya revitalisasi, karena memberi manfaat bagi murid-murid kami. Kelas yang tadinya sedikit jadi bertambah. Karena kelasnya baru, situasinya jadi nyaman dan kondusif. Mungkin pembelajaran nanti lebih efektif lagi dengan kelas yang nyaman," ungkap Irma.
Hal senada disampaikan Irwan, salah seorang siswa SMP PGRI 2 Balikpapan, yang mengaku senang dapat belajar di ruang kelas baru.
"Senang sekali karena punya kelas baru, kelasnya bagus, bersih, dan nyaman," ujar Irwan.
Sementara itu, revitalisasi juga dirasakan SD Negeri 034 Balikpapan Selatan melalui pembangunan gedung perpustakaan baru. Fasilitas tersebut kini dimanfaatkan sebagai ruang belajar sekaligus ruang interaksi bagi para siswa.
Kepala SD Negeri 034 Balikpapan Selatan, Heldyana, berharap perpustakaan baru dapat menjadi pusat aktivitas belajar yang mendorong tumbuhnya budaya literasi, kreativitas, serta pembentukan karakter peserta didik.
Selain meningkatkan kualitas pendidikan, program revitalisasi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar sekolah. Larisa, pelaku usaha penyedia air bersih di sekitar SMP PGRI 2 Balikpapan, mengaku usahanya mengalami peningkatan permintaan sejak proses pembangunan berlangsung hingga bangunan mulai digunakan.
"Saya sangat bersyukur. Selama pembangunan kemarin saya beberapa kali mengantar air untuk pembangunan gedung baru. Sampai sekarang kalau sekolah membutuhkan air, saya tetap mengisi di SMP PGRI ini," kata Heldyana.
Pada kesempatan terpisah, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa revitalisasi sekolah bukan hanya berfokus pada pembangunan fisik, melainkan merupakan investasi jangka panjang dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
"Pembangunan manusia harus dimulai dari tersedianya lingkungan belajar yang aman, nyaman, layak, dan bermutu. Karena itu, revitalisasi sekolah menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan pendidikan yang mampu memberikan kesempatan belajar terbaik bagi setiap anak Indonesia," ungkap Fajar.
Ia menambahkan, kebijakan tersebut sejalan dengan prioritas Presiden Prabowo yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi kemajuan bangsa. Pemerintah ingin memastikan seluruh anak Indonesia dapat belajar di lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran.
Pengalaman di Balikpapan menunjukkan bahwa program revitalisasi sekolah tidak hanya menghasilkan ruang belajar yang lebih layak, tetapi juga meningkatkan daya tampung peserta didik, memperkuat budaya literasi, menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, serta menciptakan dampak ekonomi positif bagi warga di sekitar satuan pendidikan. Program ini menjadi bagian dari upaya Kemendikdasmen untuk menghadirkan pendidikan bermutu bagi seluruh anak Indonesia.










