TVRINews, Jakarta
Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) terus memperkuat penerapan teknologi pertanian adaptif untuk menghadapi musim kemarau 2026 sekaligus menjaga produktivitas pangan nasional.
Penguatan dilakukan melalui jaringan BRMP di berbagai provinsi dengan mendorong penggunaan varietas unggul tahan kekeringan, teknologi hemat air, hingga pola budidaya khusus lahan kering agar produksi pertanian tetap optimal di tengah keterbatasan air.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan antisipasi musim kemarau perlu dilakukan sejak dini melalui percepatan tanam dan penguatan pengelolaan air.
“Petani perlu memanfaatkan varietas genjah dan tahan kekeringan, seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, Cakrabuana, atau varietas sejenis lainnya agar produksi tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau,” ujar Mentan Amran dalam keterangan tertulis, Rabu, 27 Mei 2026.
Sejak awal 2026, BRMP di sejumlah wilayah juga mulai memperluas penerapan teknologi adaptif melalui pendampingan budidaya hemat air, penyediaan benih unggul, serta penguatan pola tanam sesuai karakteristik wilayah.
Di Kepulauan Riau, BRMP mendiseminasikan varietas tahan kekeringan seperti Cakrabuana Agritan dan Inpari 38 Tadah Hujan Agritan kepada petani melalui pendampingan lapangan dan sosialisasi budidaya adaptif.
Sementara itu, BRMP Bali turut mendorong penggunaan benih jagung varietas Jakarin yang dinilai tetap produktif pada lahan dengan ketersediaan air terbatas.
Selain pemanfaatan varietas unggul, Kementan juga memperkuat penerapan teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan berselang yang dinilai mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air irigasi tanpa menurunkan hasil produksi tanaman.
BRMP juga mengembangkan teknologi Larikan Gogo Super (Largo Super) untuk lahan kering. Teknologi tersebut mengombinasikan varietas unggul padi gogo, sistem tanam larikan, pemupukan berimbang, bahan organik, hingga pengendalian hayati guna meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Kepala BRMP Kementan Fadjry Djufry mengatakan penguatan inovasi berbasis karakteristik wilayah menjadi langkah penting menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.
“BRMP terus mendorong penerapan inovasi teknologi pertanian sesuai karakteristik wilayah, mulai dari varietas adaptif, pengelolaan air hemat, hingga pola budidaya spesifik lahan kering agar produktivitas pertanian tetap terjaga,”ungkap Fadjry.
Ia menambahkan, BRMP bersama pemerintah daerah, penyuluh, dan petani terus melakukan pendampingan agar inovasi pertanian dapat diterapkan lebih luas di lapangan.
“Penguatan teknologi di lapangan menjadi langkah penting agar petani semakin siap menghadapi dinamika iklim sekaligus menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional,”tuturnya.
Melalui penguatan diseminasi inovasi, penerapan teknologi hemat air, dan pemanfaatan varietas unggul adaptif, Kementerian Pertanian optimistis sektor pertanian Indonesia akan semakin tangguh menghadapi perubahan iklim dan musim kemarau 2026.










