TVRINews, Banda Aceh
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa meninjau tiga destinasi unggulan di Provinsi Aceh untuk memperkuat pengembangan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Pada kunjungan tersebut, ia didampingi oleh Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Reza Pahlevi.
Di mana kunjungan tersebut, meliputi Desa Wisata Nusa di Kabupaten Aceh Besar, serta Museum Kapal PLTD Apung dan Museum Tsunami Aceh di Kota Banda Aceh.
Kunjungan diawali di Desa Wisata Nusa (Gampong Nusa), salah satu desa yang masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021. Desa yang dikelilingi perbukitan dan persawahan itu mengembangkan konsep pariwisata berbasis masyarakat melalui atraksi kuliner, kriya, seni budaya, hingga homestay yang dikelola langsung oleh warga.

Wamenpar juga menyaksikan pertunjukan Tari Ratoh Jaroe bersama komunitas Jelajah Bakti Terpuji (JEBAT) dari Malaysia, serta melihat proses memasak kuliner khas Aceh, Sie Itek, yang diolah secara tradisional menggunakan beulangong.
Menurut Ni Luh Puspa, keterlibatan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan destinasi yang mampu memberikan manfaat ekonomi tanpa menghilangkan identitas budaya daerah.
“Desa Wisata Nusa adalah contoh nyata bagaimana masyarakat mampu membangun destinasi berkualitas dan berkelanjutan dengan tetap menjaga kearifan lokal,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com di Jakarta pada Senin, 14 September 2026.
Dari Aceh Besar, nantinya rombongan melanjutkan kunjungan ke Museum Kapal PLTD Apung, salah satu saksi bisu bencana tsunami Aceh 2004. Kapal sepanjang 63 meter tersebut terseret gelombang tsunami sekitar lima kilometer dari Pelabuhan Ulee Lheue hingga ke tengah permukiman, dan kini difungsikan sebagai museum sekaligus sarana edukasi kebencanaan.
Kunjungan kemudian berlanjut ke Museum Tsunami Aceh. Wamenpar meninjau fasilitas pelayanan wisatawan sekaligus berbagai ruang edukatif yang mengajak pengunjung memahami tragedi tsunami melalui pengalaman reflektif, mulai dari Lorong Tsunami (Space of Fear), Sumur Doa (Space of Sorrow), hingga Jembatan Perdamaian yang menjadi simbol solidaritas dunia bagi Aceh.
Ni Luh Puspa menilai wisata sejarah dan edukasi memiliki peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai mitigasi bencana sekaligus memperkuat nilai kemanusiaan dan ketangguhan.
Kementerian Pariwisata, lanjutnya, akan terus mendorong kolaborasi dengan pemerintah daerah, pengelola destinasi, dan masyarakat agar potensi pariwisata Aceh berkembang secara berkelanjutan.
“Pariwisata Aceh memiliki kekuatan yang sangat besar. Melalui kolaborasi, kita berharap mampu meningkatkan kunjungan wisatawan sekaligus menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat,” tukasnya










