TVRINews, Jakarta
Diikuti 10 federasi, lomba ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman pekerja terhadap regulasi ketenagakerjaan di ibu kota.
Merayakan Hari Buruh Internasional (May Day) Tahun 2026, Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Nakertransgi) DKI Jakarta bersama Lembaga Kerja Sama (LKS) Tripartit kembali menggelar Lomba Cerdas Cermat Hubungan Industrial.
Kegiatan edukatif ini diikuti oleh perwakilan dari 10 federasi serikat pekerja/serikat buruh di Jakarta. Selain memeriahkan May Day, lomba ini juga sebagai sarana penyegaran wawasan serta pendalaman pemahaman para pekerja terhadap konsepsi dan regulasi hubungan industrial.
Kepala Dinas Nakertransgi DKI Jakarta, Syaripudin, menyatakan bahwa keberadaan pekerja yang unggul, produktif, dan sejahtera adalah indikator utama terciptanya hubungan industrial yang harmonis.
Menurutnya, pemahaman regulasi yang mumpuni sangat penting bagi buruh dalam memberikan kontribusi nyata di sektor produksi.
“Pekerja yang kompeten dengan bekal pengetahuan hubungan industrial akan berdampak pada kualitas syarat kerja di perusahaan. Terutama dalam proses diskusi dan negosiasi penyusunan Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan (PP), hingga Perjanjian Kerja Bersama (PKB),” ujar Syaripudin, dikutip Jumat, 1 Mei 2026.
Keseimbangan Kepentingan dan Investasi
Syaripudin menjelaskan bahwa pembangunan hubungan industrial saat ini difokuskan pada keseimbangan kepentingan antara tiga unsur utama: pekerja, pengusaha, dan pemerintah.
Harmonisasi ini diyakini mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif, yang pada akhirnya memicu pertumbuhan investasi berkelanjutan di ibu kota.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah dan rasa saling percaya dalam pelaksanaan produksi barang maupun jasa.
“Dengan komunikasi yang baik dan dilandasi sikap saling percaya, proses produksi dapat berlangsung produktif. Implikasinya tentu pada peningkatan kesejahteraan pekerja itu sendiri,” jelasnya.
Dengan demikian, Syaripudin mengingatkan bahwa buruh memiliki peran strategis sebagai mitra pengusaha sekaligus penyokong utama pembangunan ekonomi di Provinsi DKI Jakarta.
"Sebagai mitra strategis pengusaha dan pemerintah, pekerja adalah subjek sekaligus penyokong nilai tambah ekonomi di Jakarta," pungkasnya.










