TVRINews, Jakarta
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono bersama Direktur Jenderal Food and Agriculture Organization (FAO) Dr. Qu Dongyu membahas peluang penguatan kerja sama di sektor akuakultur dan perikanan budidaya.
Pembahasan tersebut berlangsung di sela-sela pertemuan Committee on Fisheries (COFI) ke-37 di Roma, Italia, beberapa waktu lalu. Kerja sama tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi pangan bergizi, kesejahteraan masyarakat pesisir, sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan.
FAO menilai Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan komoditas perikanan dan hasil laut bernilai tinggi yang memiliki prospek pasar internasional.
Dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, keberhasilan Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan gizi masyarakat dinilai turut berkontribusi terhadap upaya global menghadapi tantangan pangan.
“Ketahanan pangan dan gizi di Indonesia bukan hanya isu nasional, tetapi juga bagian penting dari agenda global. Keberhasilan Indonesia akan menjadi kontribusi besar bagi dunia,”kata Qu dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 17 September 2026.
Qu juga mengapresiasi perkembangan pembangunan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir serta menyampaikan optimisme terhadap visi pembangunan Indonesia menuju 2045. Ia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama di Asia Tenggara melalui pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dalam pertemuan itu, Qu menyoroti pentingnya pengembangan akuakultur berkelanjutan sebagai salah satu pilihan sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir. Menurutnya, perikanan budidaya dapat mengurangi ketergantungan terhadap hasil tangkapan dari alam, sekaligus mendukung konservasi sumber daya laut dan meningkatkan ketersediaan protein hewani.
Qu turut membagikan pengalaman sejumlah negara yang berhasil mengalihkan sebagian nelayan skala kecil ke sektor akuakultur. Langkah tersebut dilakukan melalui penguatan kelembagaan, pemanfaatan teknologi budidaya, serta penerapan model usaha berbasis kemitraan dan investasi bersama.
“Pendekatan tersebut dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam membangun sistem produksi perikanan yang lebih efisien, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memastikan keberlanjutan sumber daya kelautan untuk generasi mendatang,”tambahnya.
Selain itu, Dirjen FAO memaparkan pengalaman internasional mengenai pemanfaatan instrumen kebijakan untuk meningkatkan kapasitas petani dan nelayan. Upaya tersebut mencakup pelatihan, pengendalian penyakit, pengembangan teknologi, hingga pemberdayaan perempuan dan generasi muda.
Sementara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyampaikan komitmen Indonesia untuk mempercepat transformasi sektor kelautan dan perikanan. Transformasi dilakukan melalui pengembangan perikanan budidaya, peningkatan produktivitas masyarakat pesisir, serta penerapan prinsip keberlanjutan dalam pengelolaan sumber daya kelautan.
Pembahasan Indonesia dan FAO juga mencakup pengelolaan sumber daya air sebagai bagian penting dalam sistem pangan.
Kedua pihak sepakat melanjutkan kemitraan strategis untuk mendukung pembangunan sektor kelautan, perikanan, pangan, dan sumber daya air yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun global.










