TVRINews – Flores, NTT
Guncangan kuat di Nagekeo hari ini mengembalikan memori kelam tragedi gempa dan tsunami Flores tiga dekade silam.
Kepulauan Nusantara kembali diuji oleh tektonik bumi yang masif. Wilayah Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), diguncang gempa bumi dangkal berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu dini hari, yang langsung memicu status siaga tsunami bagi kawasan pesisir di sekitarnya.
Berada di atas jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dengan belasan ribu pulau, wilayah Indonesia secara geografis senantiasa berhadapan dengan kerentanan aktivitas kegempaan yang tinggi.
Lembaran sejarah mencatat bagaimana wilayah kepulauan ini pernah mengalami hantaman bencana berskala masif, mulai dari tragedi tsunami Samudra Hindia 2004, musibah Mentawai 2010, hingga likuefaksi mematikan di Palu pada 2018.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Wijayanto, dalam keterangan pers daring menyampaikan bahwa peristiwa pelepasan energi besar di wilayah NTT kali ini menunjukkan kesamaan pola siklus seismik dengan bencana besar yang terjadi sekitar 30 tahun lalu.
"Gempa ini terjadi akibat sesar naik busur utara Flores, gempa berkekuatan M7,7 ada potensi gempa maksimal M7,8-7,9. Pernah terjadi gempa sebesar ini tahun 1992, dengan magnitudo M7,5," ujar Wijayanto melalui sambungan konferensi pers virtual pada Sabtu 15 Agustus 2026.
Merujuk pada catatan historis arsip nasional, gempa besar yang menghantam kawasan utara Maumere pada 12 Desember 1992 silam meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Guncangan hebat kala itu tidak hanya merobohkan ribuan bangunan infrastruktur, tetapi juga membangkitkan gelombang laut raksasa setinggi hingga 25 meter yang meluluhlantakkan permukiman pesisir serta merenggut lebih dari 2.500 jiwa.
Dengan terjadinya guncangan signifikan di Nagekeo ini, otoritas kebencanaan dan para ahli geologi kembali menggarisbawahi pentingnya penguatan sistem mitigasi terpadu. Kesadaran kolektif terhadap potensi ancaman di zona rawan gempa diharapkan mampu meminimalisir risiko jatuhnya korban jiwa di masa depan.










