TVRINews, Jakarta
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait mendorong pembangunan perumahan nasional yang tidak hanya berfokus pada jumlah hunian, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan dan keterjangkauan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Maruarar mengungkapkan, pemerintah tengah menyiapkan aturan penanaman satu pohon untuk satu rumah, baik rumah subsidi maupun rumah komersial. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menciptakan kawasan hunian yang lebih hijau dan sehat.
"Kami ingin pembangunan perumahan tidak hanya fokus pada jumlah rumah, tetapi juga memperhatikan kualitas lingkungan. Karena itu kami sedang membahas aturan penanaman satu pohon untuk satu rumah," ujar Maruarar dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Selasa, 19 Mei 2026.
Lebih lanjut, ia menilai program tersebut akan memberikan dampak besar terhadap kualitas udara dan keberlanjutan lingkungan apabila diterapkan secara luas di kawasan perumahan.
"Kalau jutaan rumah dibangun dan setiap rumah menanam satu pohon, dampaknya akan sangat besar terhadap kualitas lingkungan, udara, dan keberlanjutan kota di masa depan," ucapnya.
Selain isu lingkungan, ia juga membahas tindak lanjut arahan Presiden terkait rencana tenor cicilan rumah subsidi hingga 40 tahun. Kebijakan itu dinilai dapat memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak dengan cicilan yang lebih ringan.
Menurutnya, saat ini KPR rumah subsidi dengan harga Rp166 juta di wilayah Jawa dan Sumatera memiliki cicilan sekitar Rp1,058 juta per bulan untuk tenor 20 tahun. Namun, jika tenor diperpanjang menjadi 40 tahun, cicilan diperkirakan turun menjadi sekitar Rp773 ribu per bulan.
"Kalau cicilan bisa turun menjadi sekitar Rp773 ribu per bulan, maka peluang masyarakat berpenghasilan rendah untuk memiliki rumah akan semakin besar," tuturnya.
Kemudian, ia menegaskan bahwa skema tenor 40 tahun bersifat pilihan dan disesuaikan dengan kemampuan masyarakat masing-masing.
"Kita ingin anak muda, pekerja informal, buruh, petani, dan masyarakat berpenghasilan rendah memiliki kesempatan lebih besar untuk memiliki rumah," ungkapnya.










