
Foto: ARMITS (Armor ITS) (TVRINews/Nirmala Hanifah)
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Bandung
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan kiprah inovatifnya di bidang pertahanan dengan memperkenalkan tiga produk unggulan dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025. Ketiga inovasi tersebut adalah ARMITS (Armor ITS), AUTOMORSE (Automated Morse), dan FRN™? (Frangible Round Nose).
Dimana, produk-produk ini menggabungkan teknologi tinggi, efisiensi operasional, serta aspek keamanan bagi pengguna.
Ketiga inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab tantangan yang belum dapat diatasi secara optimal oleh produk serupa yang beredar di pasar umum.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menekankan bahwa KSTI 2025 ini menjadi momentum penting bagi kebangkitan sains dan teknologi nasional sekaligus wadah untuk mempertemukan peneliti, industri, dan pemerintah guna mendorong hilirisasi teknologi.
“Pemerintah ingin mengapresiasi dan memberikan wadah bagi para peneliti. Diharapkan karya riset dasar maupun yang telah dihilirisasi dapat dipamerkan,” ujar Menteri Brian.
Selain itu, ARMITS merupakan rompi antipeluru berbahan Polymer Matrix Composite yang memiliki bobot 50 persen lebih ringan dibandingkan rompi baja konvensional yang biasanya mencapai 8–10 kg.
Selain ringan, ARMITS juga tahan terhadap kelembapan dan tidak berkarat, sehingga lebih mudah dalam pemeliharaannya.
ROMPI ini telah lulus uji balistik standar NIJ Level IIIA dan menawarkan modularitas pelindung yang memungkinkan penggantian pelat sesuai kebutuhan medan tempur.
AUTOMORSE hadir sebagai inovasi komunikasi visual taktis antarkapal yang menggantikan sistem lampu morse manual yang selama ini sangat bergantung pada keahlian operator.
Dengan tingkat akurasi hingga 98 persen, produk ini didukung teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pemrosesan citra untuk mengirim serta membaca sandi morse secara otomatis.
Penggunaan AUTOMORSE dapat mengurangi kebutuhan personel dari lima menjadi satu orang. Selain itu, produk ini dilengkapi fitur autotracking cahaya, enkripsi, dan protokol komunikasi ganda keunggulan yang tidak dimiliki oleh lampu morse konvensional.
FRN™? adalah peluru 9x19 mm tipe frangible yang langsung hancur ketika mengenai permukaan keras. Berbeda dengan peluru konvensional yang berisiko memantul dan menimbulkan bahaya sekunder, FRN™? secara signifikan mengeliminasi risiko tersebut.
Peluru ini ideal digunakan untuk latihan tembak dalam ruangan maupun operasi militer di area padat penduduk.
Selain aspek keamanan, FRN™? juga ramah lingkungan karena tidak mengandung timbal. Varian peluru berbahan copper-stannum dan copper-polyamide ini telah melalui pengujian ketat dan dikembangkan menggunakan teknik simulasi multisoftware.
Pengembangan ketiga produk ini didukung oleh berbagai sumber pembiayaan strategis, antara lain Program Penelitian Kolaborasi Indonesia (PPKI), Riset Inovatif Produktif Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (RISPRO LPDP), serta Asian Development Bank Higher Education for Technology and Innovation (ADB HETI) ITS.
Produk-produk tersebut juga telah dipamerkan dalam berbagai ajang nasional dan internasional seperti Pameran Litbanghan, Tennovex, SinoX, serta TEKNOFEST di Turki.
Dari sisi produksi, ITS telah menjalin kerja sama dengan PT Pindad dan PT Radar Telekomunikasi Indonesia guna mendukung hilirisasi industri dan memperluas penggunaan inovasi ini di lapangan.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan sekaligus Ketua Panitia Penyelenggara KSTI 2025, Fauzan Adziman, menjelaskan bahwa acara ini menekankan konsep kolaborasi pentahelix yang melibatkan lima unsur penting antara pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, industri, dan media.
“Kami ingin semua unsur pentahelix hadir dan berkolaborasi, sehingga diskusi yang terjadi lebih intens dan menghasilkan langkah konkret untuk mempercepat hilirisasi riset dan inovasi di Indonesia,” ujar Fauzan.
Melalui pameran teknologi pertahanan di KSTI 2025, pemerintah menegaskan pentingnya sinergi antara riset perguruan tinggi, dukungan industri, dan kebijakan strategis untuk mewujudkan kedaulatan teknologi nasional, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Baca Juga:
Keren! Mahasiswa UNG Ubah Popok Bekas Jadi Panel Bangunan ‘ECO-BLOX’
Editor: Redaksi TVRINews
