
Foto: Panel bangunan ECO-BLOX dari Mahasiswa UNG (TVRINews/Nirmala Hanifah)
Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Bandung
Limbah popok bekas dan tongkol jagung selama ini kerap dipandang sebelah mata, bahkan kerap dianggap tak berguna dan hanya berakhir di tempat sampah, atau bahkan dibakar. Namun, sekelompok dosen lintas disiplin dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) membuktikan bahwa dua jenis limbah ini justru bisa diubah menjadi solusi masa depan bagi dunia konstruksi yang berkelanjutan.
Lewat inovasi bertajuk ECO-BLOX, tim ini merancang panel dinding ramah lingkungan yang tak hanya kokoh, tetapi juga mampu meredam panas dan mendukung efisiensi energi. Inovasi ini turut dipamerkan dalam ajang Konvensi Sains Teknologi dan Industri (KSTI) 2025, yang digelar di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Bandung.
ECO-BLOX merupakan panel insulasi termal yang dibuat dari kombinasi limbah popok bayi bekas pakai dan serbuk tongkol jagung. Produk ini didesain khusus untuk mengatasi persoalan lingkungan sekaligus kebutuhan konstruksi di daerah tropis seperti Gorontalo.
Pengumpulan bahan baku ini, dilakukan dengan pendekatan partisipatif berbasis komunitas. Dimana, warga lokal diajak berperan aktif mengumpulkan popok bekas khususnya yang hanya terkena urin yang kemudian dibeli seharga Rp2.000 per buah.
“Kita punya tim khusus, data dikumpulkan melalui Google Form, lalu popok diambil langsung ke rumah-rumah,” ungkap Esta Larosa, salah satu anggota tim pengembang.
Inspirasi awal proyek ini muncul dari pengalaman pribadi para dosen yang memiliki anak kecil dan mengalami langsung tumpukan popok bekas di rumah. Di saat yang sama, tongkol jagung yang melimpah di Gorontalo sebagai daerah penghasil jagung terbesar juga belum dimanfaatkan secara maksimal.
Tim pengembang ECO-BLOX terdiri dari dosen dari berbagai program studi, yakni Arsitektur Bangunan Gedung (Vokasi), Teknik Sipil, dan Teknik Mesin.
Kolaborasi lintas bidang ini memungkinkan proses pengembangan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perancangan desain, formulasi material, hingga pengujian kekuatan struktur.
Dalam proses pembuatannya, popok yang telah dikumpulkan disterilisasi terlebih dahulu menggunakan metode hidrotermal, kemudian dicacah menjadi potongan kecil. Potongan ini lalu dicampur dengan serbuk tongkol jagung sebagai substitusi pasir, ditambah semen dan bahan aditif.
Campuran ini kemudian dicetak menjadi balok modular menyerupai bentuk Lego, yang memungkinkan pemasangan lebih cepat dan hemat perekat.
Hasil pengujian awal menunjukkan bahwa panel ECO-BLOX mampu menahan tekanan hingga 14 MPa, jauh melampaui standar minimum 7 MPa untuk kebutuhan struktur bangunan tempat tinggal.
Tak hanya itu, panel ini juga terbukti tahan terhadap air dan efektif dalam meredam panas, menjadikan suhu dalam ruangan lebih stabil dan nyaman tanpa harus mengandalkan pendingin ruangan berlebih.
“Panel ini membuat panas dari luar tidak langsung masuk, jadi suhu dalam ruangan lebih sejuk dan stabil,” jelas Esta.
Nama "ECO-BLOX" sendiri dipilih dengan makna yang mendalam. “ECO” mencerminkan prinsip ekologi dan keberlanjutan, sementara “BLOX” merujuk pada bentuk modular blok bangunan yang mudah dirakit.
“Harapannya, semakin banyak ECO-BLOX digunakan, semakin banyak pula lingkungan yang kita selamatkan,” ujar anggota tim lainnya, Sartika Dewi.
ECO-BLOX hadir sebagai bukti nyata bahwa inovasi berkelanjutan dapat dimulai dari persoalan sehari-hari.
Dengan memanfaatkan limbah rumah tangga dan pertanian, produk ini tidak hanya membantu mengurangi volume sampah, tetapi juga menyediakan alternatif material bangunan yang ringan, kuat, dan efisien.
Di tengah tantangan krisis iklim dan kebutuhan akan solusi pembangunan yang ramah lingkungan, ECO-BLOX menawarkan jawaban konkret untuk sebuah material masa depan yang terjangkau, berdaya guna, dan mendukung prinsip zero waste.
Baca Juga: Mendiktisaintek: KSTI Jadi Langkah Strategis Percepat Pertumbuhan Ekonomi
Editor: Redaksi TVRINews
