TVRINews, Kendal
Pemerintah terus memperkuat upaya menghadirkan pendidikan bermutu bagi anak berkebutuhan khusus melalui tiga langkah utama, yakni revitalisasi sekolah, digitalisasi pembelajaran, dan peningkatan kompetensi guru. Langkah tersebut bertujuan menciptakan lingkungan belajar yang mampu menyesuaikan kebutuhan setiap peserta didik sehingga pembelajaran menjadi lebih inklusif, adaptif, dan bermakna.
Komitmen itu merupakan bagian dari upaya pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan bagi seluruh anak Indonesia.
Dalam kunjungan kerja di Jawa Tengah, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq meninjau revitalisasi di SLB M Surya Bangsa, Kabupaten Kendal. Sekolah tersebut menerima bantuan pembangunan dua ruang kelas, satu perpustakaan, dan satu ruang keterampilan yang akan dimanfaatkan oleh 111 murid. Pemerintah juga membangun Unit Sekolah Baru di SLB Muhammadiyah Weleri sebagai bagian dari penguatan layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus.
Selain meningkatkan sarana dan prasarana, pemerintah juga memperluas digitalisasi pembelajaran melalui distribusi Interactive Flat Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID). Dalam Bimbingan Teknis Digitalisasi Pembelajaran bagi guru SLB di Jawa Tengah, Fajar menyampaikan, "Tahun ini akan ada tambahan unit IFP yang akan dikirimkan ke masing-masing sekolah dengan mempertimbangkan jumlah murid atau rombongan belajarnya. Distribusi IFP yang akan ditambahkan lagi di tahun ini mencapai lebih dari 700 ribu unit untuk seluruh satuan pendidikan."
Menurut Fajar, keberadaan IFP bukan sekadar penyediaan perangkat teknologi, tetapi menjadi sarana untuk memperluas akses belajar bagi anak berkebutuhan khusus.
"Itu bukan semata-mata proyek bagi-bagi IFP, tetapi sebenarnya punya makna yang lebih dalam untuk membantu akses anak-anak berkebutuhan khusus terhadap media belajar,"kata Fajar dalam keterangan yang diterima tvrinews, Kamis, 9 Juli 2026.
"Kehadiran PID ini justru menjembatani mereka untuk bisa mengakses media-media ajar yang lebih variatif sesuai dengan kebutuhannya masing-masing,” lanjutnya.
Fajar juga menekankan bahwa keberhasilan pendidikan inklusif sangat bergantung pada kemampuan guru dalam memahami karakter dan kebutuhan setiap peserta didik.
"Dalam pendidikan inklusif itu bukan anaknya yang diminta menyesuaikan kepada guru, tetapi bagaimana guru menyesuaikan dengan kemampuan anak dalam mencerna satu pembelajaran," tegasnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, mengatakan peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu kunci transformasi pendidikan inklusif.
"Bimbingan teknis ini hadir sebagai langkah strategis dari Direktorat PKPLK untuk memastikan transformasi pendidikan dalam konteks digital agar semakin inklusif, adaptif, dan sekaligus berdampak nyata bagi para murid penyandang disabilitas,"ungkap Tatang.
Selama empat hari pelaksanaan bimbingan teknis, para guru dibekali kemampuan memanfaatkan PID, mengembangkan video pembelajaran, membuat permainan edukatif, hingga menggunakan platform Rumah Pendidikan sebagai ruang berbagi praktik baik. Para peserta juga diminta menghasilkan produk pembelajaran dan membagikan pengetahuan yang diperoleh kepada guru lain di komunitas belajar.
Menutup kunjungannya, Fajar mengingatkan para peserta agar meneruskan ilmu yang telah diperoleh kepada rekan-rekan sejawat.
"Peserta yang hadir adalah perwakilan yang dipilih untuk mendapatkan kesempatan mengikuti Bimtek ini. Oleh karena itu Bapak Ibu punya tanggung jawab moral yang besar untuk menularkan atau mengimbaskan apa yang sudah didapatkan kepada kolega-kolega yang lain,”imbuhnya.
Melalui revitalisasi sekolah, pemanfaatan teknologi pembelajaran, serta penguatan kompetensi guru, pemerintah berharap layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus semakin berkualitas dan mampu memenuhi kebutuhan belajar setiap peserta didik secara optimal.










