
Foto: Direktur Jenderal REC Veronika Nikishina, Senin, 14 April 2025 (dok. TVRINews/ Lidya Thalia. S)
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Rusia membuka peluang kerja sama teknologi dengan Indonesia dalam sektor pertambangan, digitalisasi, dan pengembangan kota pintar (smart city). Tawaran ini disampaikan dalam forum diskusi ekonomi yang digelar di Hotel Raffles, Kuningan, Jakarta, pada Senin, 14 April 2025.
Direktur Jenderal Russian Export Center (REC), Veronika Nikishina, menyampaikan bahwa Rusia memiliki teknologi digital yang mampu meningkatkan efisiensi di sektor pertambangan. Teknologi ini juga bisa digunakan untuk mengoptimalkan eksploitasi sumber daya, termasuk menghidupkan kembali sumur minyak dan gas yang sudah ditinggalkan.
"Kita bicara mengenai bidang pertambangan. Di mana kita bisa memakai teknologi Rusia di bidang digital dan untuk meningkatkan efisiensi daripada teknologi. Ini juga bidang mikros di mana kita bisa menawarkan teknologi untuk meningkatkan efisiensi eksploitasinya dan menggunakan sumur-sumur yang sudah ditinggal," ujar Veronika saat ditemui awak media.
Kerja sama dalam pengadaan hasil pertambangan, termasuk komoditas dan produk turunannya, turut menjadi topik pembahasan dalam forum tersebut.
Tak hanya itu, Veronika juga menyampaikan ketertarikan Rusia dalam meningkatkan ekspor daging ke Indonesia. Ia menyebut peluang tersebut akan semakin besar jika ada pelonggaran dalam kebijakan impor.
"Dan kalau ada penurunan dari pembatasan impor daging dari pihak Indonesia, maka pihak Rusia bisa banyak menciplai daging ke Indonesia," ucapnya.
Rusia juga menawarkan teknologi digital untuk mendukung pengembangan smart city dan smart house di Indonesia. Teknologi tersebut meliputi sistem keamanan masyarakat, pengendalian lalu lintas dan transportasi, pertukaran dokumen digital, serta berbagai fasilitas penunjang lainnya.
"Dan tentu saja ini teknologi yang berkaitan dengan apa yang dinamakan smart city dan smart house, di mana kami bisa menawarkan berbagai-bagai teknologi digital di bidang ini untuk menjamin keamanan masyarakat, untuk mengadakan pengendalian trafik, transportasi, untuk mengadakan pertukaran secara digital dari berbagai-bagai dokumen, dan banyak sekali fasilitas lain di bidang itu," jelas Veronika.
Ia juga menyebut efisiensi energi sebagai salah satu solusi teknologi yang ditawarkan Rusia dalam kerja sama ini.
Menanggapi pertanyaan terkait perluasan perdagangan, Veronika menyampaikan bahwa salah satu tantangan utama adalah minimnya informasi mendalam mengenai potensi kedua negara. Hal ini dinilai menjadi hambatan dalam menjalin kerja sama ekonomi yang lebih luas.
Baca Juga: Hubungan Bilateral Rusia-Indonesia Menguat, Fokus pada Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Editor: Redaktur TVRINews
