TVRINews, Padang
Pengalaman gempa bumi yang melanda Padang pada 2009 menjadi titik balik bagi Gilang Dwi Nanda, seorang guru di SLB Negeri 1 Padang. Trauma menyaksikan dahsyatnya gempa saat itu mendorong Gilang membekali siswa berkebutuhan khusus dengan pengetahuan mitigasi bencana melalui cara yang lebih menyenangkan.
Sebagai guru keterampilan vokasional seni, drama, tari, dan musik, Gilang menciptakan lagu mitigasi bencana gempa bumi berjudul "Jika Ada Gempa". Lagu tersebut dilengkapi gerakan yang berisi panduan mengenai tindakan yang perlu dilakukan siswa sebelum, saat, hingga setelah gempa terjadi.
Gilang mengatakan, inovasi tersebut berangkat dari kekhawatirannya agar siswa tidak mengalami kepanikan seperti yang pernah dirasakannya saat gempa 2009.
"Saya memiliki trauma pribadi pada tahun 2009, dimana saya juga merupakan salah satu yang melihat bagaimana dahsyatnya gempa menghancurkan Kota Padang saat itu. Saya berpikir, murid-murid saya jangan sampai merasakan betapa paniknya saya dan menjadi korban suatu saat apabila tidak tahu informasi tentang menyelamatkan diri," ungkap Gilang dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Kementerian PANRB, Senin, 14 September 2026.
Menurut Gilang, edukasi mitigasi kepada anak berkebutuhan khusus tidak cukup hanya dilakukan dengan memberikan informasi secara berulang di dalam kelas. Karena itu, ia memilih pendekatan seni agar materi lebih mudah dipahami dan diingat oleh para siswa.
Sebelum lagu tersebut diciptakan, Gilang melihat masih banyak siswa yang kebingungan ketika ditanya mengenai tindakan yang harus dilakukan saat gempa.
"Ketika sebelum saya menciptakan lagu jika ada gempa itu, itu masih sangat terlihat anak-anak begitu bingung mau melakukan apa, mau kemana ketika gempa, mau melakukan apa di dalam kelas ketika gempa terjadi," ujarnya.
Melalui lagu dan gerakan tersebut, siswa kini lebih mudah mengingat prosedur keselamatan. Salah satunya Dwi, siswi SLBN 1 Padang, yang mengaku masih mengingat sejumlah langkah penyelamatan diri ketika gempa terjadi.
"Menghindari kaca, sembunyi di bawah meja, jangan berlari, jangan berisik, jangan mendorong orang lain," kata Dwi.
Kepala Sekolah SLBN 1 Padang Sudirja menilai lagu yang diciptakan Gilang memiliki instruksi sederhana sehingga mudah dipahami siswa. Gerakan yang menyertai lagu juga membantu siswa mengikuti sekaligus mempraktikkan prosedur mitigasi.
Menurutnya, metode tersebut dapat diterapkan di sekolah lain, khususnya dalam memberikan pembelajaran mitigasi kepada anak berkebutuhan khusus.
"Untuk membiasakan anak-anak kita, terutama anak-anak luar biasa yang ada di SLBN 1 Padang ini, bisa mengaplikasikan dirinya nanti pada saat terjadinya gempa, mereka sudah siap dengan prosedur yang telah diberikan," jelas Sudirja.
Padang sendiri merupakan salah satu wilayah yang memiliki risiko gempa dan tsunami tinggi karena berhadapan dengan zona megathrust Mentawai-Siberut serta dilalui Sesar Sumatra. Kondisi tersebut membuat simulasi dan edukasi mitigasi bencana menjadi bagian penting dalam pembelajaran di SLBN 1 Padang.
Sudirja pun mendorong para guru untuk terus berinovasi dengan menyesuaikan metode pembelajaran berdasarkan kemampuan dan karakter masing-masing siswa.
Ia berharap pembelajaran yang diberikan tidak hanya membantu siswa menghadapi situasi bencana, tetapi juga menjadi bekal untuk membangun kemandirian mereka dalam kehidupan sehari-hari.
"Bagi Bapak/Ibu guru yang mengayomi anak berkebutuhan khusus, marilah kita sama-sama semuanya berinovasi untuk memajukan anak kita, sesuai dengan kemampuan dan karakter anak kita masing-masing. Sehingga ke depannya anak kita bisa mandiri, bersatu dengan lingkungan di mana anak itu tinggal berada," tutup Sudirja.










