TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong penguatan kebijakan pendidikan berbasis riset melalui penyelenggaraan SEAMEO Centre Policy Research Network (CPRN) Summit 2026 di Jakarta.
Forum yang digelar bersama SEAMEO CECCEP dan SEAMEO Secretariat tersebut diikuti sekitar 200 peserta yang terdiri dari peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, praktisi pendidikan, organisasi masyarakat sipil, hingga mitra pendidikan dari berbagai negara Asia Tenggara.
Mengusung tema “Bridging Research, Policy, and Practice: Pathways toward an Inclusive, Equitable and Sustainable Futures”, forum ini membahas berbagai tantangan pendidikan kawasan, mulai dari ketimpangan akses pendidikan, transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI), pengembangan guru, hingga pendidikan inklusif dan berkelanjutan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks sehingga membutuhkan kolaborasi erat antara peneliti dan pembuat kebijakan.
“Jembatan antara riset dan kebijakan sering kali terputus. Peneliti menerbitkan hasil penelitian yang tidak dibaca pembuat kebijakan, sementara pembuat kebijakan mengambil keputusan tanpa memanfaatkan hasil riset. Kita harus mengubah keadaan ini. Peneliti dan pembuat kebijakan harus duduk bersama sejak awal untuk merancang solusi bagi pendidikan,”kata Mu’ti dalam keterangan tertulis, Rabu, 10 Juni 2026.
Dalam forum tersebut dipaparkan bahwa adopsi kecerdasan buatan dan robot di lima negara Asia Tenggara sepanjang 2018–2022 menciptakan sekitar 2 juta lapangan kerja terampil, namun juga menggeser sekitar 1,4 juta pekerja dengan keterampilan rendah.
Temuan tersebut dinilai menunjukkan pentingnya pendidikan dalam menyiapkan generasi muda menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis akibat perkembangan teknologi.
Presiden Dewan SEAMEO Romaizah binti Haji Mohd Salleh mengatakan hasil penelitian harus mampu diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata bagi masyarakat.
“Pengetahuan yang dihasilkan para peneliti tidak boleh berhenti di ruang akademik. Pengetahuan harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat,”jelasnya.
Sementara itu, Direktur SEAMEO CECCEP Vina Adriany menyebut CPRN 2026 menjadi ruang untuk memperkuat jejaring dan kolaborasi antarpemangku kepentingan pendidikan di Asia Tenggara.
“Konferensi ini tidak hanya menjadi ruang bertukar gagasan, tetapi juga membangun jejaring profesional, kemitraan baru, dan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat mendorong perubahan nyata di kawasan,”ungkap Vina.
Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti juga menegaskan Indonesia terus memperkuat transformasi pendidikan melalui pendekatan Deep Learning yang mendorong proses belajar menjadi lebih sadar, bermakna, dan menyenangkan.
Pendekatan tersebut didukung penguatan kompetensi guru di bidang AI, coding, STEM, pendidikan karakter, pengembangan tata kelola data pendidikan, revitalisasi satuan pendidikan, serta pemanfaatan teknologi pembelajaran interaktif.
Hasil forum CPRN 2026 nantinya akan dituangkan dalam rekomendasi kebijakan bagi negara anggota SEAMEO, publikasi prosiding terindeks Scopus, artikel jurnal akademik, hingga buku yang dapat dimanfaatkan pembuat kebijakan dan praktisi pendidikan di kawasan Asia Tenggara.










