TVRINews, Bandar Lampung
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan pandangan mendalam mengenai kondisi fundamental bangsa saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ke-XVIII di Bandar Lampung, Rabu, 10 Juni 2026. Dalam pidatonya, Presiden menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia saat ini telah menyimpang dari warisan dan pemikiran luhur para pendiri bangsa.
Menurut Presiden Prabowo, para pendiri bangsa telah mewariskan hal-hal luar biasa yang merupakan bentuk kecemerlangan, dimulai dari Sumpah Pemuda yang mempersatukan bangsa melalui bahasa nasional, hingga ideologi Pancasila.
Ia mengingatkan agar generasi muda tidak menganggap remeh kedamaian dan persatuan yang dimiliki Indonesia saat ini, terutama di tengah situasi global yang penuh gejolak dan konflik bersenjata.
"Menurut pandangan saya, menurut keyakinan saya, bahwa bangsa kita telah menyimpang dari pemikiran, dari warisan pendiri-pendiri bangsa kita sendiri. Pendiri-pendiri bangsa kita telah mewarisi kepada kita, menurut kita. Hal-hal yang luar biasa, yang saya katakan kecemerlangan. Tapi sudahlah lihatlah dunia sekarang, lihatlah dunia hari ini, perang dimana-mana, perang di Eropa, di tempat lahirnya demokrasi perang. Jadi, janganlah kita menganggap apa yang kita miliki sekarang adalah biasa-biasa saja," ujar Presiden Prabowo.
Selain Pancasila, Kepala Negara juga menyoroti pengabaian terhadap Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 33 yang mengatur tentang perekonomian nasional. Presiden menilai aturan yang sangat jelas dan gamblang tersebut kini jarang dibicarakan, apalagi diberlakukan secara nyata dalam kebijakan ekonomi nasional.
Kepada para pengusaha muda yang hadir, Presiden Prabowo mengajak mereka untuk bersikap kritis terhadap ketimpangan sosial yang terjadi di tengah kekayaan alam Indonesia yang melimpah. Ia mengibaratkan sendi rancang bangun bangsa sebagai sebuah cetak biru (blueprint) dalam mendirikan bangunan.
"Masalahnya adalah, menurut keyakinan saya, bahwa kita telah meninggalkan sendi-sendi yang paling penting, yaitu sendi rancang bangun bangsa. Bagaimana kita mau mendirikan gedung tanpa suatu blueprint, tanpa suatu gambar teknis. Kalau kita menyimpang dari blueprint, dari cetak biru kita menyimpang, gedung itu runtuh. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama, berdasar atas asas kekeluargaan. Ini lip service. Yang dibesarkan adalah konglomerasi," tegasnya.
Secara khusus, Presiden juga membagikan temuan yang membuatnya terkejut mengenai ketidakadilan dalam sistem pembiayaan dan kredit di lapangan. Ia menyoroti bagaimana masyarakat kecil pelaku kredit super mikro justru harus menanggung beban bunga yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan para pengusaha besar yang meminjam dari bank milik pemerintah.
"Saya kaget, waktu saya kampanye, saya berurusan dengan ibu-ibu yang ikut. Mereka rata-rata bayar bunga itu 24%. Sebenarnya pengusaha, pengusaha-pengusaha besar pinjam uang dari bank Himbara, bank milik pemerintah. Bunganya 9%, 10%. Bagaimana orang miskin bayar bunga lebih tinggi daripada pengusaha besar? Jadi kejanggalan-kejanggalan ini, ini saya coba luruskan," tambah Presiden.
Mengakhiri arahannya, Presiden Prabowo menegaskan komitmennya untuk meluruskan kejanggalan-kejanggalan ekonomi tersebut dengan kembali melaksanakan Pasal 33 UUD 1945 secara arif dan bijaksana. Ia sangat yakin, dengan kembali ke cetak biru ekonomi yang dirancang oleh para pendiri bangsa, Indonesia akan mampu bangkit dengan sangat cepat menjadi bangsa yang mandiri dan sejahtera.










