TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, menegaskan pentingnya perubahan pola pikir di kalangan kreator agar mampu melihat karya mereka sebagai aset Kekayaan Intelektual (KI) yang memiliki nilai ekonomi dan potensi bisnis jangka panjang.
Menurut Irene, masih terdapat sejumlah tantangan yang menghambat transformasi karya kreatif menjadi produk ekonomi yang berkelanjutan. Tantangan tersebut meliputi minimnya kolaborasi antara kreator dan pemasar, sikap yang terlalu kaku terhadap ide sendiri, serta kurangnya keberanian untuk memperluas pasar ke tingkat global melalui pemanfaatan teknologi digital.
"Ada tiga faktor utama yang kerap mengganjal karya kreatif bertransformasi menjadi produk ekonomi. Tantangan terbesarnya adalah mengubah pola pikir kreator agar melihat karya mereka bukan sekadar ciptaan biasa, melainkan aset Kekayaan Intelektual yang bernilai ekonomi tinggi," ujar Irene dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Minggu, 7 Juni 2026.
Ia menegaskan, Kementerian Ekonomi Kreatif hadir sebagai enabler dan connector yang siap mendampingi para pelaku ekonomi kreatif untuk mengembangkan karya sekaligus memperluas akses pasar.
Lebih lanjut, Irene juga mendorong para kreator untuk tidak takut memulai dan terus mengembangkan ide yang dimiliki. Menurutnya, keberanian untuk berkarya dapat membuka peluang lahirnya tren-tren baru dari tangan kreator Indonesia.
"Pola pikir utama yang harus dimiliki kreator adalah mulai saja dulu (just do it), tanpa perlu bingung mendikte tren. Siapa tahu, justru Anda yang akan menjadi penentu tren (trendsetter)," ucapnya.
Kemudian, Irene menekankan bahwa setelah sebuah karya mulai berkembang, langkah berikutnya adalah mengelolanya sebagai aset KI dan memperkuat aspek bisnis agar usaha kreatif dapat tumbuh secara berkelanjutan.










