TVRINews – Jakarta
Sebaran abu vulkanik yang semakin masif memaksa otoritas penerbangan memperluas zona penutupan bandara hingga Minggu malam.
Otoritas Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) secara resmi mengonfirmasi perluasan penutupan fasilitas bandar udara dari enam menjadi delapan titik pada Minggu 6 September 2026 malam.
Langkah mitigasi darurat ini diambil menyusul eskalasi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang memuntahkan sebaran abu hingga mencemari ruang udara penerbangan komersial.
Berdasarkan pembaruan data resmi yang dirilis hingga pukul 23.59 WIB, Minggu perluasan dampak erupsi ini mengharuskan penghentian sementara operasional penerbangan di sejumlah simpul transportasi udara strategis di Pulau Jawa dan Sumatra.

Papan informasi yang menampilkan jadwal penerbangan yang terganggu di Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Minggu, 6 September 2026. (Foto: AP News/Tatan Syuflana)
"Keputusan ini murni berlandaskan komitmen mutlak terhadap keselamatan penerbangan, seiring pergerakan abu vulkanik yang terpantau semakin masif dan meluas di ruang udara," ujar perwakilan manajemen operasional AirNav Indonesia dalam keterangan resminya, Minggu 6 september 2026 malam.
Kebijakan pembatasan ruang udara tersebut tertuang dalam serangkaian Pemberitahuan Resmi untuk Penerbang (NOTAM). Kedelapan bandara yang kini berstatus non-operasional sementara meliputi Bandara Internasional Soekarno-Hatta (WIII), Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Sastranegara (WICC), Bandara Pondok Cabe, Bandara Budiarto (WIRR), Bandara Radin Inten II, Bandara Pagar Alam (WIPY), serta Bandara Taufik Kiemas (WILP).
Setiap bandara terdampak memberlakukan penutupan dengan estimasi waktu peninjauan kembali hingga tengah malam, yang diatur secara presisi melalui instrumen navigasi internasional. Sebagai contoh, Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma masing-masing menghentikan layanan penerbangan melalui pembaruan NOTAM A3355/26 dan NOTAM A3354/26 sejak petang tadi.
Langkah serupa juga diterapkan di wilayah operasional barat, termasuk Bandara Husein Sastranegara di Bandung dan Bandara Budiarto di Tangerang, guna mengantisipasi risiko fatal masuknya partikel debu vulkanik ke dalam mesin pesawat.
Menanggapi situasi darurat ini, AirNav Indonesia menyatakan pihaknya terus menyiagakan posko pemantauan bersama guna mengevaluasi pergerakan arah angin dan sebaran abu secara berkala. Koordinasi lintas sektoral dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), maskapai penerbangan, serta pengelola bandara juga diintensifkan.
"Kami secara berkelanjutan memantau dinamika ruang udara dan berkoordinasi erat dengan seluruh pemangku kepentingan terkait, demi memastikan setiap informasi navigasi tersampaikan secara akurat dan tepat waktu kepada publik," imbuh pihak AirNav Indonesia pada laman resminya.
Masyarakat serta calon penumpang yang terdampak oleh penutupan masal ini diimbau untuk segera berkoordinasi langsung dengan pihak maskapai guna mendapatkan kepemastian penjadwalan ulang penerbangan mereka.










