TVRINews, Jakarta
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat penurunan signifikan kejadian layang-layang yang tersangkut di sekitar jalur Kereta Cepat Whoosh. Pada September 2026, tercatat 26 kejadian, turun sekitar 65 persen dibandingkan rata-rata kejadian pada periode Juni hingga Agustus 2026.
Pada Juni 2026, KCIC mencatat 78 kejadian layang-layang tersangkut di sekitar jalur Whoosh. Jumlah tersebut meningkat menjadi 90 kejadian pada Juli dan 58 kejadian pada Agustus, dengan rata-rata sekitar 75 kejadian per bulan.
Sementara itu, jumlah kejadian pada September turun menjadi 26 kejadian. Penurunan tersebut dinilai menjadi perkembangan positif dalam menjaga keselamatan dan kelancaran operasional Whoosh.
General Manager Corporate Secretary KCIC Eva Chairunisa mengapresiasi dukungan masyarakat dalam menjaga keselamatan di sekitar jalur Whoosh.
“KCIC mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada masyarakat yang telah turut menjaga keselamatan jalur Whoosh. Penurunan jumlah kejadian ini merupakan perkembangan positif. Kerja sama dan kepedulian masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga perjalanan Whoosh tetap aman, lancar, dan andal,” ujar Eva dalam keterangan yang diterima tvrinews melalui rilis resmi KCIC, Kamis, 8 Oktober 2026.
Untuk mencegah kejadian serupa, KCIC menyiagakan lebih dari 530 personel pengamanan yang ditempatkan di stasiun dan sepanjang jalur Whoosh. Petugas melakukan patroli selama 24 jam dengan pembagian pengawasan setiap 500 meter.
Petugas juga melakukan pemantauan dan penanganan langsung apabila menemukan aktivitas bermain layang-layang di sekitar jalur. Pengawasan diperkuat melalui koordinasi dengan TNI, Polri, serta aparat kewilayahan.
Selain patroli, petugas mendatangi sejumlah titik yang menjadi lokasi bermain layang-layang untuk memberikan edukasi mengenai potensi bahaya aktivitas tersebut terhadap perjalanan Whoosh. Edukasi dilakukan secara persuasif agar masyarakat memilih lokasi bermain yang lebih aman dan jauh dari jalur kereta cepat.
Berdasarkan pemetaan KCIC, kejadian layang-layang paling banyak ditemukan di koridor Padalarang, Cimahi, Kota Bandung hingga Kabupaten Bandung, terutama di kawasan yang berdekatan dengan permukiman dan ruang terbuka.
Aktivitas bermain layang-layang juga cenderung meningkat saat periode libur sekolah. Waktu kejadian paling sering tercatat pada pukul 15.00 hingga 18.00 WIB, ketika aktivitas masyarakat di ruang terbuka meningkat.
Hasil pemantauan KCIC menunjukkan aktivitas bermain layang-layang tidak hanya dilakukan anak-anak, tetapi juga masyarakat dewasa. Karena itu, edukasi dan sosialisasi ditujukan kepada seluruh kelompok masyarakat melalui sekolah, permukiman, maupun tokoh masyarakat.
Layang-layang maupun benang layangan yang masuk ke area jalur dapat mengganggu sistem kelistrikan kereta cepat, khususnya jika tersangkut pada Overhead Catenary System (OCS) atau pantograf kereta.
Benda asing yang tersangkut harus segera ditangani petugas untuk memastikan prasarana tetap dalam kondisi aman. Dalam kondisi tertentu, perjalanan kereta dapat ditahan sementara atau dilakukan penyesuaian operasional sesuai prosedur keselamatan.
KCIC mengimbau masyarakat tidak bermain layang-layang dalam radius minimal 3 kilometer dari sisi kiri dan kanan jalur kereta cepat. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas berisiko lainnya di sekitar jalur serta segera melaporkan kepada petugas jika menemukan benda asing yang berpotensi mengganggu operasional Whoosh.
“Kami berharap tren positif ini dapat terus dipertahankan. Upaya pengawasan dan edukasi akan terus kami lakukan, namun keberhasilannya membutuhkan dukungan dan kepedulian bersama agar gangguan akibat layang-layang tidak kembali meningkat,”pungkas Eva.










