TVRINews – Masalembo. Laut Jawa
Operasi SAR Memasuki Hari Kedelapan, Fokus Pencarian Beralih ke Penyelaman Bawah Laut dan Rotasi Armada Kapal di Perairan Masalembo.
Pencarian 126 korban yang masih hilang dalam insiden tenggelamnya Kapal Motor (KM) Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, memasuki fase baru. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menambah kekuatan personel guna memaksimalkan operasi penyelamatan pada hari kedelapan, Minggu 20 september 2026.
Sebanyak 89 personel dari unsur KN SAR Kamajaya telah diberangkatkan dari Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Pengerahan kekuatan tambahan ini dilakukan untuk menjaga efektivitas di lapangan menyusul rotasi sejumlah armada pendukung.
Direktur Operasi Basarnas, Laksamana Pertama TNI Yudhi Bramantyo Nur Sasongko, menjelaskan bahwa pergeseran personel ini didasarkan pada kebutuhan taktis yang direkomendasikan oleh SAR Mission Coordinator (SMC).
"Kami melakukan pergeseran kekuatan personel untuk memastikan kelanjutan operasi tetap optimal," ujar Yudhi saat memberikan keterangan di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin.
Sebagai bagian dari strategi lanjutan, Basarnas menyiagakan 12 penyelam pilihan dari tim gabungan untuk mengintensifkan pencarian di bawah permukaan air. Para penyelam ini direkrut melalui proses seleksi ketat serta penyegaran tim, mengingat mereka memiliki rekam jejak dalam penanganan musibah penerbangan besar seperti insiden Sriwijaya Air dan Lion Air.
Rotasi ini turut dibarengi dengan penyesuaian armada kapal. Sejumlah kapal perang seperti KRI I Gusti Ngurah Rai dan KRI Pulau Fani ditarik kembali ke pangkalan untuk rotasi kru, sementara posisinya digantikan oleh KRI Nala serta kapal tunda TB Jaya Dragon yang akan mendampingi tim penyelam bawah air.
Hingga hari ketujuh evaluasi operasi pada Sabtu malam, tim SAR gabungan mencatat sebanyak 117 jiwa berhasil ditemukan, dengan rincian 108 selamat dan sembilan meninggal dunia.
Sementara itu, 126 orang lainnya masih dalam proses pencarian dari total 243 manifest penumpang kapal yang bertolak dari Surabaya menuju Banjarmasin pada 12 September lalu.
Di sektor penunjang keselamatan pelayaran, Kementerian Perhubungan turut mengerahkan KN Kunyit untuk memasang penanda kerangka (Wreck Mark Buoy) di sekitar lokasi kejadian. Langkah ini krusial guna mengamankan alur pelayaran sekaligus mempermudah titik koordinat evakuasi.
Di sisi lain, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Kalimantan Selatan terus mengimbau pihak keluarga yang belum melapor agar segera menyerahkan data antemortem guna mempercepat proses identifikasi korban tersisa.










