Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya Bukan Sekadar Kecelakaan,Selat Bali jadi saksi bahwa kesalahan berulang ini belum juga diperbaiki.
Puluhan orang belum ditemukan hari ini sabtu (5/7) setelah tenggelamnya kapal KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Kamis malam (3/7). Dari total 53 penumpang dan 12 kru yang tercantum di manifes, kenyataannya lebih banyak korban yang tidak tercatat. Fakta ini membuka kembali luka lama tentang buruknya sistem pencatatan manifes penumpang kapal di Indonesia sebuah masalah sistemik yang nyaris menjadi "tradisi" tiap tragedi laut.

Salah satu korban jiwa, Afnan Agil Mustafa (3 tahun) dan ibunya Fitri April Lestari, bahkan tak masuk dalam daftar manifes resmi. Begitu pula lima nama lain yang dilaporkan hilang, seperti Jimmy (11), Asraf Natan (7), Dina, Bintang (2), dan Mardianah Tri Susanti semuanya tak terdata.
Validasi Data: Titik Lemah yang Terulang :
Masalah manifes yang amburadul ini bukan baru pertama kali terjadi. Dalam kasus KMP Rafelia II (2016) dan KMP Yunicee (2021), berdasakan data Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) juga menemukan jumlah penumpang jauh melebihi data resmi. Ini bukan sekadar kelalaian administratif ini pembiaran sistemik yang membahayakan nyawa.
Kementerian Perhubungan bersama Basarnas mengakui kekacauan ini sebagai bagian dari proses yang belum ideal. Deputi Kemenhub, Dudy, menegaskan bahwa pihaknya sengaja tidak tergesa dalam merilis data, menghindari kesalahan fatal yang bisa menimbulkan keresahan.
“Kami tidak ingin memberikan informasi tersebut dengan gegabah yang ujungnya nanti akan memberikan keresahan bagi keluarga,” tegasnya dalam pernyataan resmi kepada media
Sebelumnya Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi puj juga menyebutkan jumlah penumpang yang tercatat dalam manifes sebanyak 65 orang, terdiri atas 12 kru dan 53 penumpang. Namun, temuan di lapangan menunjukkan adanya penumpang yang tidak terdata.
"Sebagaimana disampaikan, data sekarang jumlah kru kapal ada 12, penumpang 53, dan jumlah kendaraan on board itu 22," ujar Dudy kepada awak media pada Kamis (3/7/2025).
Sayangnya, sistem validasi data saat ini masih bertumpu pada manual check dan konfirmasi langsung, yang sangat rentan keliru di lapangan, terutama saat situasi darurat dan penuh tekanan.
Pintu Masuk Longgar, Sistem Tiket Tak Akurat :
Sejumlah sopir travel seperti TH dari Banyuwangi mengaku hanya dimintai KTP dan STNK saat membeli tiket kapal penumpangnya tidak. Jelas salah satu supir kutip BBC News

Ini bukan kasus tunggal. Di Pelabuhan Bakauheni, Lampung, penumpang yang membeli tiket lewat aplikasi Ferizy mengaku hanya diminta tiket tanpa pengecekan KTP. Artinya, sistem digitalisasi belum menyentuh akurasi validasi di lapangan.
Kapal Tak Ideal, Desain Bermasalah
KMP Tunu Pratama Jaya buatan 2010 itu ternyata memiliki dinding kapal terbuka yang mengurangi daya apung cadangan saat dihantam air laut.
Hasanudin, dosen Teknik Perkapalan ITS, pada keterangan tertulisnya menilai kapal seperti ini tidak cocok melintasi Selat Bali yang ekstrem.
“Untuk arus laut seperti di Selat Bali, kapal harus punya GT besar dan desain tahan ombak. Kalau tidak, risiko tenggelam meningkat drastis,” tegas Hasanudin.
Masalah Akut: Siapa Bertanggung Jawab?
Meski kapal dioperasikan oleh swasta (PT Raputra Jaya), rute ini berada di bawah koordinasi ASDP Indonesia Ferry. Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin, mengatakan bahwa sistem Ferizy sebenarnya telah dilengkapi fitur pengisian data wajib.
“Data manifes bukan formalitas, tetapi perlindungan hukum dan asuransi penumpang,” kata Shelvy kutip BBC News
Namun, jika fitur digital tak diiringi pengawasan dan pemeriksaan fisik yang ketat, maka teknologi hanya jadi tameng ilusi.
Berulangnya tragedi seperti KMP Tunu Pratama Jaya menunjukkan kegagalan struktural yang tidak hanya soal teknologi, tapi niat dan integritas sistem. Manifes penumpang seharusnya menjadi alat utama penyelamatan dan identifikasi. Jika diabaikan, maka negara turut abai terhadap keselamatan warganya.
Data Terbaru Progres Evakuasi (Update Sabtu, 5 Juli 2025)
Menurut laporan Basarnas hingga Sabtu pagi:
• 36 orang ditemukan
o 30 orang selamat
o 6 orang meninggal dunia
• 29 orang masih hilang
• Total penumpang resmi dalam manifes: 65 orang
Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian intensif di lokasi kejadian dengan dukungan kapal perang, helikopter, dan drone thermal scanning.
Sudah saatnya pihak terkait duduk bersama dan melakukan reformasi sistemik. Mulai dari validasi identitas penumpang, audit kelayakan kapal, hingga penegakan standar muatan.
Selat Bali adalah jalur vital. Tapi tanpa perbaikan sistemik, laut yang seharusnya jadi penghubung justru menjadi kuburan massal yang terus menunggu korban berikutnya
Editor :Redaksi TVRInews
Baca Juga:
| KNKT Selidiki Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya, Fokus Awal pada Data Perjalanan dan Komunikasi |
Editor: Redaksi TVRINews
