TVRINews, Yogyakarta
Simulasi ribuan partikel hipotetik dijalankan dengan memadukan data arus laut, kondisi fisik, serta faktor dorongan angin permukaan.
Tim Ocean Climate Research Group (OCRG) dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan pemodelan transpor partikel Euler-Lagrangian guna memetakan pola pergerakan orang yang hanyut di perairan Selat Sunda.
Kajian ilmiah independen ini diinisiasi untuk memberikan dukungan informasi tambahan bagi operasi pencarian delapan orang yang terdiri atas lima jurnalis dan tiga awak kapal, yang dilaporkan hilang kontak di Selat Sunda pada 7 September 2026 saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Tim riset yang dipimpin oleh peneliti PRIMA BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, menjalankan simulasi dengan memadukan data arus laut, skenario kondisi fisik korban, serta faktor dorongan angin.
Metodologi Pemodelan dan Simulasi Ribuan Partikel
Dalam simulasi tersebut, tim BRIN menyebarkan ribuan partikel hipotetik yang merepresentasikan manusia dengan kisaran berat badan 60–70 kilogram yang mengenakan pelampung. Pergerakan partikel dihitung secara berkala dengan memperhitungkan faktor dinamika arus, angin permukaan, serta penyimpangan arah akibat bagian tubuh yang berada di atas permukaan air (leeway).
Widodo menjelaskan bahwa faktor dinamika arus dan gelombang memegang peranan krusial dalam menentukan arah serta kecepatan pergerakan objek di atas air.
“Kecepatan hanyut yang dibangkitkan gelombang itu sekitar 40% dari total arus permukaan yang ada di lokasi itu. Jadi, kondisi arus seperti ini akan sangat penting bagi prediksi penyebaran korban,” ujar Widodo dalam keterangannya dikutip dari laman BRIN, Sabtu, 19 September 2026.
Pengaruh Ketidakpastian Koordinat Titik Awal
Hasil pemodelan memperlihatkan temuan penting mengenai sensitivitas titik awal kejadian. Perbedaan koordinat lokasi hilang kontak seluas atau berjarak sekitar 30 kilometer terbukti menghasilkan proyeksi lintasan akhir yang jauh berbeda.
Pada skenario pertama, sebaran partikel bergerak ke arah barat menyusuri pesisir Lampung. Sementara pada skenario lain, partikel justru tertarik masuk ke dalam arus pantai Samudra Hindia dan bergerak jauh ke arah barat laut. Tingkat ketidakpastian 30 kilometer pada titik awal tersebut berkembang menjadi estimasi sebaran seluas 221 hingga 292 kilometer pada posisi akhir.
Guna mengantisipasi deviasi tersebut, tim menjalankan delapan skenario berbeda dengan memvariasikan titik koordinat, waktu kejadian, dan arah dorongan angin, yang kemudian digabungkan melalui pendekatan ensembel menjadi sebuah peta probabilitas. Berdasarkan pemetaan ini, luas area yang mencakup 95 persen kemungkinan posisi korban berkembang dari sekitar 2.700 kilometer persegi pada hari keenam menjadi lebih dari 10.500 kilometer persegi pada hari ke-14 pencarian.
Keterbatasan Model dan Rekomendasi Penguatan SAR
Tim OCRG BRIN menegaskan bahwa hasil pemodelan ini berfungsi sebagai instrumen bantu perencanaan bagi tim SAR, bukan sebagai penentu titik akhir keberadaan korban. Model ini memiliki beberapa keterbatasan, di antaranya penggunaan estimasi data angin yang diturunkan dari tinggi gelombang, asumsi bahwa korban senantiasa mengapung menggunakan pelampung, serta belum adanya validasi langsung dari temuan di lapangan.
Kendati demikian, BRIN menilai teknologi pemodelan laut memiliki potensi besar untuk meningkatkan efektivitas operasi pencarian dan pertolongan (search and rescue/SAR) di perairan Indonesia ke depannya.
“Kajian ini menunjukkan potensi pemodelan laut untuk mendukung kesiapsiagaan pencarian dan pertolongan di perairan Indonesia. Pengembangan protokol pemodelan hanyut, pemasangan pelampung berpenjejak satelit, model hidrodinamika beresolusi tinggi. Kemudian, pencatatan koordinat kejadian secara seragam dan terverifikasi menjadi langkah yang dapat dikembangkan lebih lanjut,” pungkas Widodo.










