TVRINews, Jakarta
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama sejumlah kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah memperbarui nota kesepahaman tentang pemanfaatan Candi Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon untuk kepentingan keagamaan umat Hindu dan Buddha di Indonesia maupun dunia.
Kerja sama lintas sektor tersebut diarahkan untuk memperkuat fungsi keempat kawasan candi sebagai ruang peribadatan, pusat wisata religi dan spiritual, sekaligus warisan budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat melalui pengembangan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
Widiyanti mengatakan pembaruan kerja sama tersebut mempertegas komitmen pemerintah dalam menempatkan Prambanan, Borobudur, Mendut, dan Pawon sebagai destinasi wisata religi dan spiritual berkelas dunia, tanpa mengesampingkan aspek pelestarian warisan budaya.
“Langkah pembaruan dan adendum ini dilakukan untuk menyesuaikan dinamika tata kelola pemerintahan terkini, khususnya terkait penyesuaian nomenklatur pada struktur kementerian dan lembaga saat ini. Lebih dari itu, pembaruan ini menyempurnakan ruang lingkup kerja sama agar lebih adaptif, relevan, serta responsif terhadap dinamika pengembangan wisata di kawasan candi ke depan,” kata Widiyanti dalam keterangan tertulis yang dikutip oleh tvrinews.com, Sabtu, 19 September 2026.
Ruang lingkup kerja sama mencakup pemanfaatan Candi Prambanan sebagai tempat peribadatan umat Hindu serta Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon sebagai tempat peribadatan umat Buddha.
Keempat kawasan tersebut juga diarahkan menjadi pusat Tirtha Yatra Hindu dan Dharmayatra Buddha, pengembangan wisata religi, kebudayaan dan keagamaan, serta pusat riset dan inovasi di bidang agama, sejarah, seni, dan budaya.
Kerja sama tersebut turut mencakup fasilitasi pemanfaatan kawasan candi, promosi wisata religi dan budaya, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pelestarian keempat candi sebagai cagar budaya dan warisan bangsa.
Widiyanti berharap kawasan candi tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi berkembang menjadi ruang inklusif yang mempertemukan nilai spiritual, kebudayaan, pendidikan, pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat.
“Harapan kami, candi-candi ini dapat menjadi ruang pertemuan yang inklusif dan berkelanjutan, baik untuk kegiatan edukasi peradaban, wisata religi, hingga acara keagamaan yang mendatangkan manfaat langsung bagi masyarakat setempat. Mari kita jaga dan lestarikan bersama warisan budaya Tanah Air,” ujar Widiyanti.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno mengatakan candi bukan sekadar karya arsitektur, tetapi juga warisan yang mengandung nilai keagamaan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, akhlak, dan peradaban.
Menurutnya, pemanfaatan kawasan candi dapat menjadi ruang pertemuan antara agama, ilmu pengetahuan, budaya, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Ia juga menilai pengembangan tersebut dapat mendukung pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.
“Oleh karena itu, kami mengajak semua lapisan masyarakat untuk bersama-sama menjaga agar seluruh umat dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk. Wisatawan dapat menikmati warisan sejarah dan warisan budaya dengan pengalaman yang penuh makna, sementara masyarakat sekitar, ekonomi daerah, bahkan ekonomi nasional dapat tumbuh,” ucap Pratikno.
Sementara, Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menjelaskan kerja sama tersebut merupakan kelanjutan dari kesepakatan yang telah dibangun sejak 2022.
Melalui kerja sama itu, Candi Prambanan semakin dimanfaatkan sebagai tempat peribadatan dan Tirtha Yatra umat Hindu. Adapun Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon dikembangkan sebagai ruang peribadatan dan Dharmayatra umat Buddha.
Partisipasi umat dalam kegiatan keagamaan di kawasan candi juga menunjukkan peningkatan. Pada 2024, Upacara Tawur Agung Kesanga di kawasan Prambanan diperkirakan diikuti sekitar 10.000 umat. Pemanfaatan kawasan tersebut juga diperluas melalui Saka Yoga Festival ke-8 yang melibatkan lebih dari 500 peserta.
Sementara, berbagai kegiatan keagamaan Buddha di kawasan Borobudur, Mendut, dan Pawon pada 2025 diikuti 33.556 peserta, termasuk umat dari luar negeri. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat sebanyak 24.894 peserta.
“Ke depan kami ingin Prambanan, Candi Borobudur, Candi Mendut, dan Candi Pawon tidak hanya menjadi destinasi yang dikunjungi, tetapi menjadi pusat spiritualitas dunia, tempat umat beribadah dengan khidmat. Karena itu, saya mengajak seluruh pihak untuk menjaga keseimbangan antara pemanfaatan dan pelestarian,” tutur Nasaruddin.
Pembaruan nota kesepahaman ini diharapkan memperkuat posisi empat kawasan candi sebagai ruang peribadatan dan pembelajaran peradaban, sekaligus mendorong pengembangan wisata religi yang tetap sejalan dengan upaya pelestarian warisan budaya dan pemberdayaan masyarakat.










