TVRINews, Yogyakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) telah meluncurkan sebanyak 22 Konsorsium Perguruan Tinggi sebagai upaya memperkuat kolaborasi riset dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial dan pembangunan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Peluncuran dilakukan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan bersama Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta (SSTY) 2026 yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V.
Di mana, forum tersebut menjadi wadah sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menghadirkan solusi pembangunan berbasis ilmu pengetahuan.
Fauzan menegaskan perguruan tinggi perlu mengubah orientasi dari sekadar menghasilkan capaian akademik menjadi institusi yang mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat. Menurutnya, tantangan pembangunan yang semakin kompleks hanya dapat diatasi melalui kolaborasi lintas disiplin ilmu.
“Konsorsium adalah pengakuan bahwa tidak ada satu perguruan tinggi yang mampu menyelesaikan persoalan daerah sendirian. Semua kepakaran harus dipertemukan untuk menghasilkan solusi bersama,” ujar Fauzan dalam keterangan yang diterima tvrinews.com pada Jumat, 11 September 2026
Selain itu, ia juga mencontohkan penanganan stunting yang memerlukan keterlibatan berbagai bidang keilmuan, mulai dari tenaga medis, ahli gizi, pertanian, komunikasi, hingga ekonomi.
Sebanyak 14 perguruan tinggi negeri dan swasta di DIY tergabung dalam 22 konsorsium yang telah menyelaraskan kepakaran akademik dengan kebutuhan pembangunan di lima kabupaten dan kota. Program ini difokuskan pada sejumlah isu prioritas, seperti pengentasan kemiskinan, kesehatan, ketahanan pangan, perubahan iklim, pengembangan UMKM, ekonomi kreatif, pariwisata, pendidikan, lingkungan, serta pengelolaan sampah.
Kepala LLDikti Wilayah V, Setyabudi Indartono, mengatakan konsorsium menjadi strategi untuk menjembatani hasil riset akademisi dengan kebutuhan kebijakan pemerintah daerah.
“Yogyakarta memiliki kekuatan besar sebagai kota pendidikan. Konsorsium ini menjadi langkah nyata agar kepakaran perguruan tinggi berdampak langsung bagi pembangunan masyarakat,” kata Setyabudi.
Sementara itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan bahwa keberhasilan ilmu pengetahuan tidak diukur dari banyaknya penelitian yang dihasilkan, melainkan dari manfaat yang dirasakan masyarakat.
“Ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab selalu membawa kita pada satu pertanyaan: siapa yang hidupnya menjadi lebih baik karena pengetahuan itu hadir?” tutur Sri Sultan.
Pembentukan 22 konsorsium tersebut merupakan bagian dari program Diktisaintek Berdampak, yang mendorong pendidikan tinggi, riset, dan inovasi menjadi motor penggerak pembangunan daerah sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.










