TVRINews – Jakarta
Komitmen mempererat hubungan bilateral melalui kerja sama masa kini
Indonesia dan Mesir secara resmi memperkokoh hubungan diplomatik dan kerja sama lintas sektor melalui penguatan Kemitraan Strategis, sebagai tindak lanjut atas kunjungan kenegaraan Presiden Abdel Fattah El-Sisi ke Jakarta.
Langkah ini mempertegas komitmen kedua negara berkembang dalam memperluas jangkauan kerja sama perdagangan, industri pertahanan, pendidikan, hingga koordinasi diplomasi aktif terkait isu-isu kawasan.
Dokumen lembar fakta resmi Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia mencatat bahwa hubungan diplomatik kedua negara berakar kuat sejak Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kedaulatan kedaerahan Indonesia.
Landasan historis tersebut kini ditransformasikan ke dalam agenda pembangunan teoretis dan praktis yang lebih modern melalui Joint Declaration on Strategic Partnership yang ditandatangani pada 12 April 2025.
Penguatan Neraca Perdagangan dan Sektor Pertahanan
Di bidang ekonomi, nilai perdagangan bilateral kedua negara menunjukkan tren positif. Sepanjang tahun 2025, total nilai transaksi perdagangan mencatatkan angka US2,38miliardengansurplussebesarUS1,50 miliar untuk pihak Indonesia. Tren pertumbuhan perdagangan ini terus berlanjut hingga pertengahan tahun 2026, di mana realisasi perdagangan periode Januari hingga Juni 2026 telah menyentuh angka US$1,74 miliar.
Komoditas ekspor utama Jakarta ke Kairo mencakup minyak dan lemak nabati, rempah-rempah, kopi, teh, mesin listrik, hingga bahan kimia anorganik. Sebaliknya, pasokan impor Indonesia dari Mesir didominasi oleh komoditas pupuk, garam, belerang, serta produk pertanian dan buah-buahan. Guna mengoptimalkan akses pasar, kedua pihak tengah mengkaji penjajakan kesepakatan Preferential Trade Agreement (PTA) maupun Free Trade Agreement (FTA) melalui mekanisme Joint Trade Committee (JTC).
Sementara itu, pada pilar keamanan dan pertahanan, Kementerian Pertahanan RI dan Kementerian Pertahanan Mesir telah sepakat membentuk Kelompok Kerja Pertahanan (Defense Working Group). Kelompok kerja ini difokuskan untuk mengoordinasikan kolaborasi industri pertahanan, latihan militer bersama, program pertukaran personel, hingga pengujian teknis persenjataan.
"Pembentukan kelompok kerja ini dimaksudkan untuk membantu menerjemahkan pembahasan di tingkat menteri menjadi program kerja sama yang konkret serta mengidentifikasi langkah tindak lanjut atas berbagai usulan inisiatif," demikian tertulis dalam laporan resmi Badan Komunikasi Pemerintah RI Minggu 11 Oktober 2026.
Sinergi Pendidikan, Kebudayaan, dan Isu Kemanusiaan
Selain fokus pada ranah ekonomi dan militer, sektor pendidikan dan kebudayaan tetap menjadi tiang penyangga utama. Pemerintah Indonesia mencatat terdapat sekitar 15.000 mahasiswa Indonesia yang saat ini menempuh studi di Universitas Al-Azhar, Kairo.
Dalam perkembangan terkini, Kementerian Kebudayaan RI memprakarsai usulan pendirian Rumah Budaya Indonesia serta pengembangan studi kajian Indonesia di lingkungan Universitas Al-Azhar guna mempromosikan nilai-nilai Islam moderat (Wasathiyah).
Pada pilar geopolitik, Indonesia dan Mesir kembali menyuarakan posisi bersama terkait resolusi konflik di Timur Tengah. Kedua negara secara konsisten mendukung hak menentukan nasib sendiri bagi rakyat Palestina, pembentukan negara Palestina yang merdeka, serta pemenuhan bantuan kemantuan darurat di Gaza.
Kunjungan kenegaraan Presiden El-Sisi ke Indonesia ini sekaligus menyempurnakan rangkaian dialog tingkat tinggi antarkedua negara, menyusul tiga kunjungan kerja Presiden RI ke Kairo yang berlangsung sepanjang periode 2024 hingga 2025.










