
Foto: Singkong khas Ende, NTT (TVRINews/Krisafika Taraisya)
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Ende
Keprihatinan terhadap anjloknya harga singkong menjadi latar utama digelarnya Festival Uwi Kaju oleh sekelompok pemuda di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Festival yang akan berlangsung pada Juni mendatang ini diinisiasi oleh Tobias dan kakaknya, sebagai bentuk kepedulian terhadap nasib petani lokal di Desa Roga, Kecamatan Ndona Timur.
"Biasanya satu karung singkong bisa dijual Rp150 ribu. Sekarang hanya dihargai Rp70 ribu. Saya sedih melihat kondisi petani kita. Mereka bekerja keras tapi hasilnya tidak sepadan," ungkap Ketua Pelaksana Festival Uwi Kaju, Tobias, saat ditemui di Pantai Kota Raja, Ende, Sabtu, 31 Mei 2025.
Menurutnya, kondisi ini mengancam keberlangsungan pertanian lokal yang masih dikelola secara tradisional dan organik, terutama di daerah seperti Desa Roga yang belum tersentuh pupuk kimia.
Melalui festival ini, Tobias ingin mengangkat kembali nilai dan potensi pangan lokal seperti singkong yang dalam bahasa setempat disebut ubi kaju sekaligus mempromosikan produk turunan khas daerah seperti utadamba, yaitu sayur berbahan dasar singkong yang biasa dikonsumsi dalam upacara adat.
Selain menyoroti isu pangan, Festival Uwi Kaju juga menjadi ruang kolaborasi antar komunitas muda kreatif di Ende serta didukung oleh pemerintah desa. Rangkaian kegiatan meliputi pra-festival dengan demo produk, pertunjukan seni, hingga aksi sosial di desa penghasil singkong.
"Ini bukan sekadar festival, tapi bentuk perlawanan terhadap ketimpangan yang dialami petani kita," tegasnya.
Festival Uwi Kaji dijadwalkan berlangsung pada 16–17 Juni untuk pra-festival, dan puncaknya digelar di Desa Roga tanggal 30 Juni - 2 Juli dengan beragam kegiatan, termasuk pameran UMKM dan malam kesenian.
Baca Juga: Menlu Sugiono Harap Pencak Silat Bisa Dipertandingkan di Olimpiade
Editor: Redaktur TVRINews
