
Kasus ADP, Kemlu Tegaskan Layanan Psikologi dan Psikiatri In-House Disediakan
Penulis: Intan Kw
TVRINews, Jakarta
Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) menyatakan diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Arya Daru Pangayunan alis ADP (39) mengalami burn out di masa akhir kehidupannya.
Menanggapi hal tersebut, Kemlu RI menegaskan bahwa pihaknya memberikan dukungan menyeluruh kepada seluruh staf dan keluarganya, termasuk melalui layanan konseling psikologi dan psikiatri secara in-house.
“Secara umum, Kemlu juga selama ini memberikan berbagai dukungan kepada seluruh staff dan keluarga Kemlu yang membutuhkan, termasuk layanan konseling psikologi dan psikiatri. Layanan in-house ini telah disediakan Kemlu untuk membantu staf Kemlu dan keluarganya apabila terdampak dari aktivitas dan penugasan kedinasan,” kata Kemlu, Rabu, 30 Juli 2025.
Sebelumnya, Asosiasi Psikologi Forensik Himpunan Psikologi Indonesia atau Apsifor Himpsi menemukan adanya riwayat e-mail berupaya mengakses layanan kesehatan mental secara daring. Hasilnya, ditemukan bahwa korban berupaya mengakses layanan tersebut terakhir pada 2021.
"Terakhir kali dari data yang dihimpun tahun 2021, awalnya dari data yang dihimpun tahun 2013," ujar Ketua Umum Apsifor Nathanael Sumampouw.
Nathanael juga berbicara soal tugas korban yang berkaitan dengan penyelamatan WNI di luar negeri. Menurutnya, korban memikul tanggung jawab yang berat.
Ia menilai peran tersebut mampu memicu kelelahan kepedulian hingga stress. Hal itu, menurutnya, bisa memicu pada keputusan untuk mengakhiri hidup seseorang.
"Masa-masa akhir kehidupannya sebagai diplomat, almarhum bertugas melakukan perlindungan WNI, dia pekerja kemanusiaan, memikul berbagai tanggung jawab menjalankan tugas profesional dan peran humanistik sebagai pelindung, pendengar dan penyelamat," imbuhnya.
"Ini semua tentu menimbulkan dampak seperti burnout, kelelahan kepedulian, terus menerus terpapar dengan trauma, dinamika psikologis itu kami temukan di masa akhir kehidupannya," lanjutnya.
Nathanael juga menegaskan psikologis seseorang tidak bisa disederhanakan. Menurut dia, perlu dipahami hasil interaksi dari berbagai faktor personal, profesional, sosial, dan struktural.
"Tidak ada faktor tunggal yang dapat menjelaskan kondisi psikologis almarhum yang negatif," jelasnya.
Baca Juga:
Mendagri Tito: BUMD Berperan Strategis Perkuat Pendapatan Asli Daerah
Editor: Redaksi TVRINews
