
Tangkapan layar akun Instagram @fadlizon
Penulis: Krisafika Taraisya Subagio
TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menghadiri sesi taklimat media pada hari terakhir Bali International Film Festival (Balinale) 2025 yang digelar di Sanur, Denpasar. Dalam kesempatan tersebut, Fadli memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi dan kontribusi festival film yang telah berlangsung selama 18 tahun ini.
“Balinale merupakan jendela budaya Indonesia kepada dunia. Ini capaian luar biasa, dan saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang menjaga kualitas dan konsistensi festival ini hampir dua dekade,” ujar Fadli, dikutip Minggu, 8 Juni 2025.
Balinale 2025 menayangkan lebih dari 70 film dari 32 negara, termasuk delapan pemutaran perdana dunia, 25 perdana Asia, dan 16 premiere internasional. Sebanyak 23 film Indonesia turut diputar, memperlihatkan kekayaan cerita dan keragaman perspektif dalam perfilman nasional.
Sebagai satu-satunya festival film di Indonesia yang memenuhi kualifikasi Oscar, Balinale juga menjadi ruang penting bagi kolaborasi industri film. Rangkaian penutupan festival kali ini turut diramaikan dengan pemutaran film secara terbuka melalui bioskop tradisional layar tancap.
Menurut Fadli, kehadiran Balinale tak hanya memperkuat jejaring perfilman nasional, tetapi juga membuka peluang kerja sama lintas negara. Ia mencontohkan ajang Indonesia Cinema Night yang belum lama ini digelar, mempertemukan berbagai pelaku industri dari sutradara, produser, hingga pendukung industri kreatif.
“Kegiatan seperti ini mendorong terbangunnya kolaborasi baru, termasuk potensi co-production lintas negara,” ungkapnya.
Dalam mendukung ekosistem perfilman Tanah Air, Kementerian Kebudayaan memiliki instrumen pendanaan Dana Indonesiana yang salah satunya melalui skema matching fund, program yang dirancang untuk menopang produksi film independen, termasuk yang mendapat dukungan dari mitra luar negeri.
“Harapannya, lebih banyak karya lahir dari kolaborasi lintas pihak. Kita ingin membangun ekosistem perfilman yang sehat, berkelanjutan, dan berpihak pada nilai-nilai kebudayaan bangsa,” ucapnya.
Pendiri Balinale, Deborah Gabinetti, menyebut pengakuan dari Oscar menjadi tonggak penting perjalanan Balinale. Selain meningkatkan visibilitas festival, pengakuan ini membuka peluang lebih besar bagi para pembuat film untuk mendapatkan audiens global.
“Festival ini menyediakan platform bagi para filmmaker untuk dikenal, mendapat peluang baru, dan memperluas jangkauan penonton,” ujar Gabinetti.
Sementara itu, sutradara Andi Bachtiar Yusuf mengaku senang dengan pernyataan Fadli yang menyebut film sebagai produk budaya. Ia berharap negara lebih hadir dalam memberikan perlindungan terhadap film nasional, termasuk melalui regulasi seperti kuota penayangan film lokal.
“Film adalah ekspresi budaya yang hidup. Harus ada kebijakan yang berpihak agar film Indonesia tetap memiliki ruang di negerinya sendiri,” tegas Andi.
Sejak pertama kali digelar pada 2007, Balinale terus menjadi ajang bertemunya pembuat film, pelaku industri, dan penonton dari berbagai belahan dunia. Lewat forum-forum diskusi dan pemutaran film, festival ini mendorong pertukaran budaya dan menginspirasi generasi sineas berikutnya.
Editor: Redaktur TVRINews
