TVRINews, Surakarta
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memperkuat posisi sebagai pusat pendidikan seni yang mampu mengangkat kesenian lokal ke tingkat internasional.
Penguatan tersebut dilakukan melalui pengembangan talenta, riset, kolaborasi global, hingga pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis budaya. Hal itu disampaikan Brian saat melakukan kunjungan kerja ke ISI Surakarta.
Menurutnya, seni merupakan identitas sekaligus keunggulan Indonesia yang harus dikelola secara berkelanjutan agar tetap lestari dan mampu bersaing di panggung dunia.
“Kalau bidang seni, ini kan kekayaan kita, ini keunikan kita. Justru makanya perlu ada pengelolaan yang baik, dan penuh semangat,” ujar Brian dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Minggu, 20 September 2026.
Brian menilai perguruan tinggi seni memiliki peran strategis tidak hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi juga sebagai ruang lahirnya inovasi budaya, penciptaan karya, dan pengembangan sumber daya manusia kreatif. Karena itu, tata kelola akademik dan pembinaan talenta perlu terus diperkuat agar seni Indonesia memiliki daya saing internasional.
Salah satu fokus yang didorong yakni, internasionalisasi ISI Surakarta melalui peningkatan jumlah mahasiswa asing dan kolaborasi lintas negara. Ia menyebut kampus seni memiliki potensi besar menjadi destinasi pendidikan bagi mahasiswa mancanegara yang ingin mempelajari seni dan budaya Indonesia.
“Bisa dimulai inisiasi-inisiasi mendapatkan atau mengundang mahasiswa asing. Kita berharap banyak yang bisa sekolah di sini. Karena ini serius dan potensi besar,” katanya.
Selain membuka akses bagi mahasiswa asing, Brian juga mendorong kerja sama dengan seniman internasional, akademisi, dosen tamu, hingga diaspora Indonesia. Kolaborasi tersebut dinilai dapat memperkaya proses pembelajaran sekaligus memperluas jejaring pengembangan karya seni.
Brian menekankan bahwa kegiatan seni tidak berhenti pada penciptaan karya, tetapi juga harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Festival, pertunjukan, dan agenda kebudayaan didorong menjadi bagian dari penguatan ekosistem industri kreatif melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, komunitas, dan pelaku usaha.
Menurutnya, pengembangan kegiatan seni secara terencana dapat menciptakan peluang ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kampus.
“Dengan begitu kita tidak hanya melatih dari sisi akademi, dari sisi seni, tapi lebih jauh dari itu kita akan memberi dampak ekonomi, dampak industri kepada masyarakat sekitarnya,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Brian juga mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan studi mahasiswa. Ia meminta perguruan tinggi mengembangkan berbagai skema dukungan, mulai dari penguatan jejaring alumni hingga penghimpunan dana pendidikan bagi mahasiswa yang membutuhkan.
“Mohon tetap bisa dibantu, jangan sampai ada yang terhambat karena ekonomi,” pesannya.
Sementara itu, Rektor ISI Surakarta Bondet Wrahatnala menjelaskan bahwa kampus terus memperkuat pelestarian seni dan budaya melalui pendidikan, penelitian, serta kolaborasi. Sepanjang 2026, ISI Surakarta melaksanakan 123 penelitian dengan pendanaan internal, sementara penelitian yang didanai pihak eksternal meningkat dari 15 menjadi 20 judul.
Selain penguatan riset, ISI Surakarta juga tengah mengembangkan digitalisasi dan sentralisasi layanan akademik serta administrasi guna meningkatkan kualitas pelayanan kepada sivitas akademika.
Kunjungan Mendiktisaintek tersebut menjadi momentum penguatan pendidikan tinggi seni yang berakar pada budaya Indonesia sekaligus terbuka terhadap jejaring global. Melalui internasionalisasi, riset, dan pengembangan ekosistem kreatif, ISI Surakarta diharapkan mampu memperluas kontribusinya bagi kemajuan seni, budaya, dan perekonomian nasional.










