
dok. Kemenperin
Penulis: Christhoper Natanael Raja
TVRINews, Aceh
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyalurkan bantuan bagi warga yang baru menempati hunian sementara (huntara) di Kecamatan Peureulak Barat, Kabupaten Aceh Timur, Aceh.
Bantuan diserahkan secara simbolis kepada sepuluh keluarga penyintas banjir dan longsor yang terjadi pada akhir November 2025.
Kepala BNPB Suharyanto bersama Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky menyerahkan langsung bantuan tersebut kepada perwakilan warga.
Paket bantuan yang diberikan meliputi 150 paket sembako, 600 lembar matras, serta masing-masing 150 unit kasur, kompor, karpet, dan kipas angin. Bantuan ini menjadi dukungan awal bagi warga sambil menunggu distribusi perabotan huntara dari Kementerian Sosial.
“BNPB berinisiatif untuk memberikan barang-barang sementara, ada kasur, ada kompor, ada kipas angin, karena kalau siang panas sekali. Kemudian ada karpet dan ada matras,” ujar Suharyanto dalam acara di Desa Beusah Seberang, Peureulak Barat, Jumat, 27 Februari 2026.
Baca Juga: Wamendikdasmen Tekankan Deep Learning Humanis dan Pengawasan Ketat Revitalisasi Sekolah
Dalam kesempatan itu, Suharyanto kembali menjelaskan kriteria kategori rumah rusak sesuai petunjuk pelaksanaan. Salah satu indikatornya adalah tinggi timbunan lumpur saat bencana.
Lumpur dengan ketinggian 20 sentimeter hingga satu meter masuk kategori rusak ringan. Sementara di atas itu tergolong rusak sedang hingga berat.
“Di atasnya itu pasti rusak sedang dan rusak berat. Jadi yang belum masuk tidak usah kecil hati. Segera diajukan ulang,” kata Suharyanto.
Ia meminta warga yang merasa belum terdata agar mengajukan ulang melalui pemerintah desa. Terkait bantuan dana perbaikan rumah rusak ringan dan sedang, Suharyanto meminta pihak perbankan mempermudah proses pencairan.
Sebanyak 80 persen dana dapat langsung dicairkan ke rekening penerima, sementara 20 persen sisanya dapat diambil setelah ada pernyataan bahwa rumah telah dibersihkan atau diperbaiki dan diketahui kepala desa atau geuchik.
“Dana 20 persen itu tetap menjadi hak warga. Hanya saja pencairannya menunggu konfirmasi bahwa perbaikan sudah dilakukan,” ucap Suharyanto.
Sebelum penyerahan bantuan, Kepala BNPB bersama jajaran meninjau sejumlah unit huntara menggunakan sepeda motor. Kegiatan itu juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak yatim dan buka puasa bersama.
Pembangunan huntara di Aceh Timur terus menunjukkan progres signifikan. Sebanyak 1.503 unit huntara insitu yang dibangun BNPB telah selesai 100 persen.
Huntara tersebut merupakan bagian dari total 2.437 unit yang ditangani BNPB. Selain unit yang telah rampung, 243 unit masih dalam tahap penyelesaian dengan progres di atas 50 persen, sementara 691 unit lainnya masih di bawah 50 persen.
Secara keseluruhan, jumlah huntara yang telah atau siap dihuni mencapai 1.722 unit. Rinciannya terdiri atas 1.503 unit huntara insitu dan 219 unit huntara komunal atau 44 kopel yang dibangun bersama berbagai pihak.
Sebaran huntara insitu terbanyak berada di Kecamatan Pante Bidari sebanyak 941 unit, sedangkan paling sedikit di Kecamatan Indra Makmur sebanyak 2 unit. Suharyanto juga meninjau langsung huntara di Kecamatan Simpang Ulim, Banda Alam, dan Idi Rayeuk.
Selain pembangunan huntara, BNPB menyalurkan skema Dana Tunggu Hunian bagi warga dengan rumah rusak berat. Sebanyak 432 kepala keluarga memilih skema tersebut, dengan 373 rekening penerima telah terbit dan distribusi buku rekening masih berlangsung.
BNPB memastikan percepatan penyediaan hunian sementara menjadi prioritas agar masyarakat terdampak segera memperoleh tempat tinggal yang layak selama masa pemulihan.
Editor: Redaktur TVRINews
