Penulis: Rifiana Seldha
TVRINews, Jakarta
Nama Sarwo Edhie Wibowo resmi disematkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional Tahun 2025 di Istana Negara, Senin (10/11/2025). Ia dianugerahi sebagai tokoh asal Jawa Tengah di bidang perjuangan bersenjata, atas jasa dan pengabdian panjangnya dalam menjaga kedaulatan bangsa, sejak masa perang kemerdekaan hingga stabilisasi politik Indonesia di tahun-tahun genting setelahnya.
Sarwo Edhie Wibowo lahir di Desa Pangenjuru, Purworejo, Jawa Tengah, pada 25 Juli 1927. Sejak muda, ia dikenal disiplin dan nasionalis, tumbuh dalam keluarga sederhana dari pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini.
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 1945, Sarwo yang masih berusia 18 tahun langsung bergabung dalam Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal TNI dan memulai kiprahnya sebagai Komandan Kompi. Ia turut bertempur mempertahankan kemerdekaan di berbagai daerah sepanjang periode 1945–1949.
Perjalanan kariernya di dunia militer terus menanjak hingga ia dipercaya memimpin pasukan elit Angkatan Darat, Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) pada 1964. Dari sanalah nama Sarwo Edhie benar-benar dikenal luas.
Pada masa penuh gejolak tahun 1965, ketika peristiwa Gerakan 30 September (G30S) mengguncang republik, Sarwo tampil sebagai salah satu tokoh penting di balik operasi penumpasan gerakan tersebut. Di bawah komandonya, RPKAD bergerak cepat di berbagai wilayah, termasuk Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali, untuk menertibkan situasi dan mengamankan negara dari ancaman kekacauan politik.
Meski periode itu menjadi babak kelam dalam sejarah bangsa, peran Sarwo Edhie dikenang sebagai sosok prajurit yang teguh dan loyal terhadap negara. Ia menjalankan tugas dalam rangka menjaga keutuhan Indonesia, di tengah situasi yang nyaris memecah belah bangsa.
Pasca 1965, Sarwo Edhie terus mengabdikan dirinya di dunia militer dan pendidikan. Pada 1970, ia diangkat Presiden ke-2 Soeharto menjadi Gubernur Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) di Magelang, tempat ia membina ribuan calon perwira muda lintas matra. Di tangannya, AKABRI tumbuh menjadi pusat pembentukan karakter dan kedisiplinan prajurit Indonesia.
Empat tahun kemudian, pada 1974, Presiden Soeharto menugaskannya sebagai Duta Besar Indonesia untuk Korea Selatan, posisi yang ia emban hingga 1976. Di negeri ginseng itu, Sarwo dikenal membawa semangat disiplin dan kerja keras khas militer Indonesia dalam hubungan diplomatik.
Dalam kehidupan pribadi, Sarwo Edhie Wibowo dikenal sederhana, tegas, dan berintegritas tinggi. Ia merupakan ayah dari mendiang Ani Yudhoyono, istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Rekan-rekannya di militer mengenangnya sebagai sosok yang tidak banyak bicara, namun tindakannya selalu berbicara lantang yaitu setia kepada negara, berani mengambil resiko, dan menjunjung tinggi kehormatan.
Sarwo Edhie Wibowo wafat pada 9 November 1989 dan dimakamkan di di daerah asalnya di tempat pemakaman keluarga Purworejo tepatnya di Kampung Ngupasan, Kelurahan Pangenjurutengah, Purworejo, Jawa Tengah.
Tiga puluh enam tahun setelah kepergiannya, namanya kini diabadikan sebagai Pahlawan Nasional, sebuah penghormatan tertinggi bagi seorang prajurit yang hidupnya diabdikan sepenuhnya untuk bangsa.
Editor: Redaksi TVRINews
