TVRINews, Jakarta
Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier dengan tegas mengatakan jika kemitraan strategis antara Indonesia dan Jerman di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dunia merupakan hal yang penting. Hal ini ia sampaikan, saat melakukan kunjungan kenegaraan dan bertemu Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin, 15 Juni 2026 hari ini.
Lebih lanjut, Steinmeier menilai jika saat ini dunia tengah menghadapi berbagai konflik yang terjadi di sejumlah kawasan, mulai dari Eropa hingga Timur Tengah dan Afrika.

“Pertemuan kita hari ini berlangsung di tengah situasi politik dunia yang sulit. Konflik mengguncang banyak kawasan: perang di tengah Eropa, perang di Timur Dekat dan Timur Tengah, serta konflik yang sering luput dari perhatian seperti di Jalur Gaza, Sudan, dan Yaman,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi global yang dipenuhi ketidakpastian justru membuat hubungan antara Indonesia dan Jerman semakin penting. Ia menyebut kedua negara memiliki kesamaan pandangan dalam menjunjung hukum internasional dan kerja sama multilateral.
“Di masa ketika dunia tampak sedang tidak terkendali, di mana ketidakpercayaan, politik kekuasaan, atau kekerasan meningkat di banyak tempat, kemitraan seperti antara Indonesia dan Jerman sangatlah berharga,” katanya.
Ia juga menyampaikan keinginan kedua negara untuk memperdalam kemitraan strategis yang telah terjalin sejak 2022, termasuk di bidang ekonomi, pendidikan, penelitian, budaya, hingga aksi iklim.
“Saya senang bahwa kita sepakat bahwa kita ingin memperdalam kemitraan ini lebih jauh lagi, melampaui Deklarasi Jakarta tahun 2012, baik dalam aspek ekonomi, maupun di bidang iklim, pendidikan, penelitian, dan budaya,” ujar Steinmeier.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jerman menegaskan bahwa Indonesia dan Jerman sama-sama berkomitmen terhadap demokrasi, tatanan internasional berbasis aturan, serta penghormatan terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB.

“Kita disatukan oleh komitmen yang jelas terhadap demokrasi, tatanan internasional yang berbasis aturan, dan multilateralisme. Melintasi benua, kita berdiri bersama untuk prinsip-prinsip dasar Piagam PBB dan hukum internasional,” katanya lagi.
Tak hanya itu, Presiden Steinmeier juga menyoroti peran penting Indonesia dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik melalui ASEAN. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai salah satu faktor penentu stabilitas regional.
“Indonesia merupakan faktor stabilitas penting di kawasan ASEAN, dan kami melihat bahwa Indonesia tidak hanya menjalankan peran ini, tetapi juga ingin terus mengembangkannya,” ujarnya.
Di bidang ekonomi, Presiden Steinmeier menyampaikan optimisme terhadap penyelesaian Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA) yang telah lama dinegosiasikan.
“Saya sangat senang bahwa perundingan IEU-CEPA, setelah sekian lama, semoga akan segera mencapai penyelesaian. Perjanjian ini akan sangat memudahkan akses pasar bagi kedua belah pihak, di mana hingga 90 atau 95 persen bea masuk dapat dihapuskan,” katanya.
Menurut Steinmeier, penyelesaian perjanjian tersebut akan membuka peluang investasi baru, termasuk bagi perusahaan kecil dan menengah asal Jerman yang ingin memperluas usahanya di Indonesia.
“Perjanjian ini menyimpan potensi yang sangat besar untuk memfasilitasi perdagangan antar negara kita dan memungkinkan investasi baru. Ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan memajukan kerja sama yang lebih erat antara perusahaan Jerman dan Indonesia di bidang inovasi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kehadiran sejumlah perusahaan Jerman yang telah lama beroperasi di Indonesia sebagai bukti bahwa Indonesia merupakan destinasi investasi yang menjanjikan.
“Sudah sejak lama banyak perusahaan Jerman hadir di sini. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya pasar yang menarik, tetapi juga lokasi untuk investasi,” kata Steinmeier.
Selain kerja sama ekonomi, kedua negara juga membahas peluang kolaborasi di sektor energi terbarukan dan transisi energi. Steinmeier menilai tantangan perubahan iklim dan ketergantungan terhadap energi fosil harus dihadapi melalui kerja sama yang lebih erat.
“Kami ingin membuka jalan baru bagi energi terbarukan. Hal ini hanya dapat berhasil jika dilakukan bersama,” ujarnya.
Selain itu, Presiden Steinmeier juga mengapresiasi sambutan yang diberikan pemerintah Indonesia dan menyampaikan kekagumannya terhadap nilai toleransi yang terus dijaga di Indonesia.
“Saya tahu dari kunjungan saya sebelumnya bahwa toleransi beragama sangat dihargai dan dipelihara di negara ini, dan itu adalah nilai luhur yang menyatukan kedua negara kita,” tuturnya.
Ia pun mengucapkan terima kasih kepada Presiden Prabowo atas diskusi yang berlangsung hangat dan konstruktif selama kunjungan kenegaraan tersebut.
“Terima kasih tulus atas sambutan yang ramah, keramah-tamahan, dan pertukaran pemikiran yang mendalam,” pungkas Steinmeier.










