TVRINews, Bekasi
Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak melaporkan progres pembangunan jembatan dan sarana air bersih yang dilakukan untuk membuka akses masyarakat di berbagai daerah. Hingga saat ini, pembangunan jembatan telah mencapai ribuan titik dan terus dipercepat untuk mengejar target 5.000 titik pada tahun ini.
Maruli mengatakan, dari sekitar 3.800 titik jembatan yang telah dikerjakan, sebanyak 2.500 titik telah rampung, sementara 508 titik lainnya masih dalam proses pengerjaan. Selain itu, pembangunan juga difokuskan pada 798 titik di wilayah terdampak bencana, termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

“Kami meyakini target 5.000 titik ini bisa selesai. Setelah melalui proses perjalanan, secara teknis pembuatan jembatan semakin cepat. Kami juga terus melakukan evaluasi terhadap spesifikasi dan proses pembangunannya,” ujar Maruli di Peresmian 3.395 Jembatan TNI Polri dan 3.000 Sumber Air Bersih TNI AD, Kabupaten Bekasi, Kamis, 13 Agustus 2026.
Salah satu jembatan yang baru diselesaikan berada di wilayah dengan panjang 80 meter dan memberikan manfaat langsung bagi sekitar 200 kepala keluarga.
Secara keseluruhan, pembangunan jembatan tersebut telah membuka akses menuju 9.008 sekolah, 7.807 desa, 4.502 fasilitas kesehatan, serta 4.618 fasilitas ekonomi. Infrastruktur tersebut juga diperkirakan memberikan manfaat bagi sekitar 4,5 juta jiwa.
Maruli menegaskan, pembangunan jembatan tidak hanya bertujuan memperlancar mobilitas masyarakat, tetapi juga memastikan anak-anak dapat bersekolah dengan lebih aman serta mempercepat akses ambulans, distribusi bantuan, dan aktivitas ekonomi.
“Jembatan ini memberikan dampak besar bagi masyarakat. Anak-anak tidak perlu lagi menyeberangi sungai dengan risiko basah dan membahayakan keselamatan untuk mencapai sekolah. Akses kesehatan dan distribusi logistik juga menjadi lebih cepat,” katanya.
Salah satu jembatan terpanjang yang dikerjakan berada di Aceh Tamiang dengan panjang mencapai 240 meter. Menurut Maruli, kondisi geografis di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat membuat pembangunan jembatan membutuhkan penanganan khusus karena banyak sungai memiliki bentang yang lebar.
Pembangunan juga dilakukan di wilayah Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan. Jembatan sepanjang 100 meter tersebut berhasil diselesaikan dalam waktu enam bulan, meski proses pengerjaannya menghadapi kendala geografis karena material seperti pasir dan semen harus dikirim menggunakan tongkang.
“Daerahnya sebagian besar merupakan rawa dengan kondisi tanah yang lembek. Karena itu, kami harus membuat pasak-pasak untuk memperkuat struktur jembatan,” ujar Maruli.
Selain pembangunan jembatan, Maruli melaporkan percepatan penyediaan akses air bersih. Dari total 10.912 titik yang telah diprogramkan, sebanyak 5.797 titik telah dikerjakan selama lima tahun terakhir. Sementara sejak mendapat dukungan pemerintah pada awal tahun hingga Agustus 2026, pembangunan telah mencapai sekitar 3.000 titik.
Salah satu lokasi dengan tingkat kesulitan tinggi berada di Pulau Raas, Madura. Di wilayah tersebut, pembangunan sumur dilakukan hingga kedalaman sekitar 90 meter. Akses air bersih di kawasan itu sebelumnya menjadi persoalan sehingga dukungan dari berbagai pihak, termasuk TNI Angkatan Laut, pernah dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat.
Lokasi lain berada di Gunungsitoli, Nias, dengan pengeboran mencapai kedalaman 180 meter. Kondisi batuan membuat tim harus berpindah lokasi hingga delapan kali dan membutuhkan waktu sekitar dua bulan. Pembangunan tersebut diperkirakan memberikan manfaat bagi sekitar 231 kepala keluarga.
Maruli juga menyampaikan perkembangan pembangunan infrastruktur pendukung pertanian. Hingga kini, sekitar 83.150 hektare lahan yang sebelumnya bergantung pada hujan telah mendapatkan dukungan pengairan sehingga berpotensi meningkatkan intensitas panen hingga tiga kali dalam setahun.
Melalui tambahan 445 titik pengairan, cakupan lahan yang mendapatkan manfaat diproyeksikan bertambah sekitar 16.970 hektare. Dengan demikian, total lahan yang ditargetkan mendapatkan dukungan pengairan pada tahun ini mencapai sekitar 100.120 hektare.
“Harapannya, lahan yang sebelumnya hanya mengandalkan hujan dapat berproduksi hingga tiga kali panen. Jika produktivitasnya meningkat, tentu akan memberikan kontribusi terhadap produksi gabah nasional,” kata Maruli.
Untuk mendukung distribusi air, pembangunan jaringan pipanisasi juga terus dilakukan. Salah satunya berada di Pulau Bawean dengan panjang jaringan mencapai 15 kilometer. Pekerjaan serupa juga tengah berlangsung di wilayah lain dan ditargetkan rampung pada akhir tahun.
Maruli menegaskan, percepatan pembangunan infrastruktur tersebut merupakan bagian dari upaya membuka akses masyarakat di wilayah yang selama ini sulit dijangkau.
“Kami terus melakukan evaluasi agar pembangunan semakin cepat dan tepat sasaran. Harapannya, seluruh infrastruktur yang dibangun benar-benar memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” pungkasnya.










