
dok. Kemenhut
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Jakarta
Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, menerima kunjungan Menteri Inggris untuk Indo-Pasifik, Seema Malhotra, di Manggala Wanabakti, Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026. Pertemuan ini menindaklanjuti forum tingkat tinggi Advancing Sustainable Nature Finance in Aceh and Beyond yang digelar di Lancaster House, London, awal 2026.
Agenda utama pertemuan adalah membahas perkembangan dan rencana implementasi Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI), inisiatif prioritas dalam kemitraan Indonesia–Inggris di bidang konservasi dan pembiayaan berbasis bentang alam.
PECI dikembangkan melalui amandemen nota kesepahaman kedua negara dengan menambahkan fokus pada konservasi Gajah Sumatra. Program ini bertujuan menjaga kelangsungan hidup gajah Sumatra melalui perlindungan habitat, pengelolaan lanskap berkelanjutan, serta pengurangan konflik manusia dan satwa liar di wilayah Peusangan, Aceh.
Baca Juga: HUT ke-34 TNGHS, Momentum Perkuat Komitmen Jaga Hutan Hujan Pegunungan Jawa
Tahap awal proyek mencakup area seluas 20.000 hektare, dengan potensi pengembangan hingga 80.000 hektare guna membentuk koridor ekologis terintegrasi. Saat ini, PECI memasuki fase persiapan implementasi, termasuk pembentukan kelembagaan, perencanaan teknis, serta penguatan koordinasi antara pemerintah, mitra pembangunan, sektor swasta, dan masyarakat lokal.
Raja Juli Antoni menegaskan bahwa PECI tidak hanya berfokus pada perlindungan spesies, tetapi juga dirancang sebagai model pembiayaan konservasi terpadu.
“PECI kami posisikan sebagai landscape-based conservation financing model yang mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan hutan lestari, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Fokus pertemuan hari ini adalah memastikan fase implementasi berjalan terstruktur, terukur, dan memiliki keberlanjutan pembiayaan jangka panjang,” kata Raja Juli dalam keterangan tertulis, Jumat, 27 Februari 2026.
Ia menambahkan, konservasi gajah Sumatra menjadi bagian dari agenda strategis nasional untuk memperkuat tata kelola kawasan konservasi, mendukung target Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030, serta memperkuat posisi Indonesia dalam kepemimpinan global isu hutan dan iklim.
Selain PECI, kedua negara juga membahas kerja sama lain seperti program Kemitraan untuk Bentang Alam Berkelanjutan (KIBAR), pembentukan National Park Financing Task Force, serta peluang mobilisasi pembiayaan inovatif berbasis alam, termasuk blended finance, kredit karbon, dan kredit biodiversitas berintegritas tinggi.
Kemitraan Indonesia–Inggris sendiri berada di bawah kerangka MoU FOLU Net Sink 2030 yang ditandatangani pada 22 Oktober 2022, mencakup penguatan tata kelola kehutanan, dukungan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK), konservasi spesies prioritas, serta pengembangan skema pembiayaan kehutanan berkelanjutan.
Pemerintah Inggris menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pembiayaan konservasi dan perlindungan spesies prioritas di Indonesia, termasuk melalui dukungan teknis dan investasi pada inisiatif berbasis bentang alam seperti PECI.
Pertemuan ini menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat kolaborasi konkret dalam konservasi hutan, pengelolaan berkelanjutan, dan mobilisasi pembiayaan alam yang kredibel, demi menjaga ekosistem hutan Indonesia sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Editor: Redaktur TVRINews
