TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mendorong perguruan tinggi berperan aktif dalam menyiapkan talenta muda untuk mengisi peluang kerja di sektor ramah lingkungan atau green jobs.
Upaya ini dilakukan melalui pemetaan kebutuhan tenaga kerja, penguatan riset, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri. Hal ini diungkapkan Wamen Stella, dalam rapat bersama Inovasi Muda yang membahas penguatan ekosistem green jobs.
Tak hanya itu, ia juga menilai jika pengembangan pekerjaan ramah lingkungan perlu diiringi dengan penciptaan model bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan mampu menyerap tenaga kerja. Karena itu, lanjutnya, keterlibatan perguruan tinggi, industri, dan pemerintah daerah diperlukan untuk mengembangkan potensi lokal menjadi usaha berkelanjutan.
“Bagaimana yang green itu bisa menjadi suatu bisnis dan setelah ada perputaran ekonomi, ini akan menyerap tenaga kerja. Kalau sudah menyerap tenaga kerja dan berperan dalam perekonomian, pemerintah daerah pasti akan semangat,” ujar Stella dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Pada pertemuan tersebut, Wamen Stella membeberkan salah satu upaya yang dibahas adalah pengembangan Green Business Academy melalui perguruan tinggi. Di mana, program ini dirancang untuk mempertemukan dosen, peneliti, pelaku industri, dan pemerintah daerah dalam mengidentifikasi peluang usaha berkelanjutan sesuai potensi dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Selain mendorong kewirausahaan hijau, Stella menyoroti pentingnya mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan riset perguruan tinggi. Melalui pendekatan push and pull, industri dapat menyampaikan persoalan yang membutuhkan solusi, sementara perguruan tinggi mengembangkan penelitian dan inovasi berdasarkan keahlian yang dimiliki.
Sejumlah bidang yang berpotensi dikembangkan melalui kolaborasi tersebut meliputi pengolahan sampah menjadi energi, pariwisata berkelanjutan, serta pemantauan terumbu karang dengan dukungan kecerdasan artifisial (AI).
Nantinya, pengembangan riset di bidang tersebut juga perlu terhubung dengan pendidikan dan pelatihan agar mahasiswa memiliki pemahaman mengenai penerapan teknologi untuk menjawab persoalan lingkungan.
Untuk membantu generasi muda memasuki sektor tersebut, Stella mengusulkan penyusunan panduan jalur karier green jobs. Panduan ini dapat memuat informasi mengenai jenis pekerjaan, kompetensi yang dibutuhkan, serta bidang yang memiliki permintaan tenaga kerja tinggi tetapi masih menghadapi keterbatasan tenaga terampil.
Pemetaan tersebut diharapkan menjadi acuan bagi perguruan tinggi dalam menyesuaikan materi pembelajaran dan pengembangan keterampilan mahasiswa dengan kebutuhan dunia kerja.
Dalam kesempatan yang sama, Inovasi Muda memaparkan inisiatif Green Jobs Academy, Green Jobs Labs, dan Green Jobs Impact. Ketiganya mencakup kegiatan pendidikan, pelatihan, sertifikasi, penelitian, inovasi, serta pengembangan kewirausahaan untuk mendukung penyiapan talenta di sektor berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, sejumlah agenda yang dibahas meliputi pemetaan kebutuhan green business dan green jobs berdasarkan masukan industri, pengembangan Green Business Academy, serta penyusunan panduan jalur karier hijau.
Pertemuan tersebut juga membahas peluang pendanaan penelitian terkait green jobs melalui perguruan tinggi sebesar Rp250 juta mulai 2027. Pelaksanaan dan skema pendanaan masih memerlukan koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait.
Melalui penguatan pendidikan, riset, dan kemitraan industri, Kemdiktisaintek mendorong agar pengembangan green jobs tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja. Dengan demikian, perguruan tinggi diharapkan dapat berkontribusi dalam menyiapkan generasi muda yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri berkelanjutan.










