TVRINews, Jakarta
Pengelolaan sumber daya lingkungan seringkali berujung pada konflik, salah satunya akibat benturan kepentingan berbagai pihak. Untuk itu, pendekatan multipihak dengan penguatan kolaborasi dianggap sebagai jalan tengah dalam pelestarian ekologi berkelanjutan.
Guru Besar bidang Antropologi Lingkungan, Profesor Prudensius Maring, menyatakan bahwa penyelamatan ekologi melibatkan banyak pihak dengan beragam kepentingan. Ia menilai bahwa menarik garis batas antara pihak dengan pandangan yang berbeda justru dapat memicu permusuhan dan menambah masalah baru.
Profesor Maring optimistis bahwa banyak pihak yang dapat digandeng untuk bekerja sama dalam menyelesaikan persoalan kerusakan lingkungan. Kolaborasi antar pemerintah dan berbagai pihak diharapkan dapat terus digalakkan untuk mencapai tujuan pelestarian ekologi yang berkelanjutan.
Pendekatan kolaborasi ini disampaikan oleh Profesor Prudensius Maring saat orasi ilmiah pada pengukuhannya sebagai Guru Besar di bidang Antropologi Lingkungan di Universitas Budi Luhur, Jakarta, pada Senin, 9 Desember 2024.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah Tiga, Profesor Toni Toharudin, menilai bahwa bidang Antropologi Lingkungan sangat relevan dengan tantangan dunia saat ini, terutama menghadapi krisis iklim. Oleh karena itu, relasi antara manusia dan lingkungan menjadi isu krusial, dan kajian akademis diperlukan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan lingkungan yang berkelanjutan.










