
Dok. ANTARA
Penulis: Alfin
TVRINews, Jakarta
Pemimpin tertinggi Gereja Katolik sedunia, Paus Fransiskus memuji semboyan Indonesia "Bhinneka Tunggal Ika" yang memiliki arti berbeda-beda tetapi tetap satu. Suaranya untuk perdamaian, keberagaman, dan keadilan akan terus dikenang.
Paus Fransiskus pernah menaruh perhatian pada Indonesia. Dalam kunjungan apostolik ke Jakarta, September 2024 lalu, Paus Fransiskus menyampaikan apresiasi mendalam terhadap semboyan nasional Bhinneka Tunggal Ika.
Berbicara di depan Presiden Joko Widodo dan tamu negara di Istana Kepresidenan, Paus menyebut semboyan itu sebagai simbol harmoni dan kekayaan budaya.
“Semboyan negara Anda, Bhinneka Tunggal Ika, bersatu dalam keberagaman secara harafiah berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua, berarti mengungkapkan realitas beraneka sisi dari berbagai orang yang disatukan dengan teguh dalam satu bangsa,” kata Paus Fransiskus.
Ia menyampaikan pidato dalam bahasa Italia, yang kemudian diterjemahkan melalui perangkat audio oleh para penerjemah. Dalam kesempatan itu, Paus juga menyapa Presiden Terpilih saat itu, Prabowo Subianto, dan menyampaikan harapan atas masa depan Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas.
“Saya mengucapkan salam hangat kepada Presiden Terpilih untuk tugas pelayanan Anda yang membawa buah kepada Indonesia, sebuah negara kepulauan yang luas yang terdiri dari ribuan dan ribuan pulau yang dikelilingi laut,” ujar Paus.
Meski tengah dalam masa pemulihan dari bronkitis kronis dan pneumonia, Paus tetap hadir di balkon utama Basilika Santo Petrus untuk menyampaikan pesan Paskah terakhirnya pada Minggu, 20 April 2025. Pesan Urbi et Orbi tersebut dibacakan oleh seorang ajudan.
Dalam pesan itu, ia kembali menyerukan gencatan senjata di Gaza, pembebasan sandera, dan mengecam peningkatan antisemitisme di berbagai negara.
“Saya mengimbau pihak-pihak yang bertikai: menyerukan gencatan senjata, membebaskan para sandera, dan membantu orang-orang yang kelaparan yang mendambakan masa depan yang damai,” ujar Paus.
Ia menyebut situasi di Gaza sebagai kondisi yang dramatis dan menyedihkan, mencerminkan konsistensinya dalam menyerukan keadilan dan perlindungan bagi rakyat sipil di wilayah konflik.
Paus Fransiskus dikenal dengan pendekatan moral dan spiritual yang mengedepankan kesederhanaan, empati, dan keberanian bersuara atas ketidakadilan. Ia kerap menggunakan mimbar Tahta Suci untuk mengingatkan dunia terhadap ketimpangan sosial, krisis migran, hingga kerusakan lingkungan.
Dalam ensiklik terkenalnya, Laudato Si’, ia mengajak umat manusia menjaga bumi sebagai rumah bersama.
“Kita tidak bisa berpura-pura menjadi pemilik atas bumi ini. Kita adalah penjaga, dan saat bumi menderita, manusia pun ikut menderita,” tulis Paus dalam ensikliknya.
Warisan moral dan spiritual Paus Fransiskus akan terus hidup di hati umat Katolik dan komunitas global. Suaranya adalah cahaya dalam gelap, dan pesannya tentang kasih serta perdamaian akan terus dikenang lintas agama dan generasi.
Baca Juga: Ketika Indonesia Menangis, Kenangan Paus Fransiskus Kembali Hidup
Editor: Redaktur TVRINews
