Penulis: Fityan
TVRINews - Jakarta
Kabar meninggalnya Paus Fransiskus menggugah kembali memori hangat ribuan warga Indonesia yang pernah bersorak, menangis, dan bersatu menyambut sosok pemersatu umat itu dalam kunjungannya ke Jakarta.
Duka itu datang seperti angin sore, perlahan namun menghunjam. Saat kabar meninggalnya Paus Fransiskus berembus ke berbagai penjuru dunia, ingatan warga Indonesia seketika melayang pada satu momen yang hangat: ketika sang pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu melintasi jalanan Ibu Kota dan disambut cinta ribuan umat dari berbagai agama, suku, dan usia.
Hari itu, 4 September 2024 , tak hanya jadi catatan sejarah dalam buku gerejawi. Tapi berubah menjadi menjadi kenangan hidup yang kini terasa makin berarti bagi warga indonesia khususnya kaum nasrani.
Ribuan warga berkumpul di antara dua titik simbolik: Masjid Istiqlal dan Katedral Jakarta. Dua rumah ibadah besar yang hanya dipisahkan jalan kecil namun disatukan dalam satu semangat: persaudaraan antariman. Di sana, tak hanya umat Katolik yang menanti, tapi juga saudara Muslim yang ikut menyeka air mata haru saat mobil putih Paus melintas. Bahkan para tentara Muslim di sekitar nunsiatur menangis ketika beliau muncul
Paus Fransiskus datang ke Indonesia bukan sekadar dalam kapasitas pemimpin agama, tetapi sebagai utusan damai. Ia menolak tinggal di hotel mewah, memilih kendaraan sederhana, dan menyapa semua orang tanpa sekat keagamaan. Di Katedral, ia berdialog dengan para imam dan biarawati. Di Grha Pemuda, ia bercakap hangat dengan kaum muda. Dan di Masjid Istiqlal, ia menandatangani deklarasi perdamaian bersama Imam Besar.
Momen-momen ini, yang awalnya hanya terekam dalam kamera dan hati para penanti, kini berubah menjadi pusaka kenangan yang tak ternilai, terlebih setelah kabar duka itu hadir. “Bukan hanya umat Katolik, seluruh bangsa Indonesia melihat siapa sebenarnya Paus Fransiskus,” Beliau datang tidak hanya untuk berbicara pada sebagian, tapi pada semua.
Kini, ketika dunia berkabung, Indonesia pun ikut merunduk. Bukan hanya karena kehilangan seorang tokoh, tapi karena kehilangan cahaya yang sempat singgah dan menghangatkan. Namun bagi banyak orang, kenangan tentang Paus Fransiskus tak akan pernah benar-benar pergi. Ia tetap hadir dalam sorot mata yang merekam lambaian tangan itu, dalam air mata yang jatuh diam-diam, dalam bisikan harapan bahwa damai itu mungkin… dan pernah nyata.
Baca Juga: PGI : Paus Fransiskus Ajarkan Kemanusiaan
Editor: Redaktur TVRINews
