TVRINews, Jakarta
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengajak generasi muda Indonesia membangun semangat beyond nationalism, yakni nasionalisme yang diwujudkan melalui karya, inovasi, dan penguasaan teknologi yang mampu mengangkat nama Indonesia di tingkat global.
Menurutnya, Indonesia membutuhkan visi besar dan keyakinan kolektif untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah menuju negara maju.
Brian menegaskan, ukuran kemajuan bangsa tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Ia menyebut target pendapatan per kapita di atas 15.000 dolar AS sebagai salah satu indikator agar Indonesia dapat naik kelas, sementara saat ini masih berada pada kisaran 5.400–5.500 dolar AS.
“Ini adalah ukuran dignity bangsa kita, ukuran kebanggaan bangsa kita di depan bangsa lain. Kita harus membangun kepercayaan diri bahwa bangsa kita mampu. Industrialisasi adalah sebuah keharusan,” ujar Brian kutip Jumat, 11 September 2026.
Lebih lanjut, ia menerangkan jika transformasi ekonomi tidak dapat terus bergantung pada konsumsi maupun ekspor sumber daya alam. Menurutnya, industrialisasi menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas, membuka lapangan kerja, memperkuat ekspor, sekaligus menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Ia juga menyoroti tantangan deindustrialisasi yang dialami Indonesia selama sekitar dua dekade terakhir. Karena itu, penguatan industri nasional harus menjadi agenda bersama yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat.
Dalam proses tersebut, teknologi dan inovasi menjadi fondasi utama. Brian mencontohkan keberhasilan Jepang, Korea Selatan, dan China yang mampu membangun kekuatan ekonomi melalui pengembangan industri secara konsisten. Indonesia pun dinilai memiliki kapasitas serupa, sebagaimana pernah ditunjukkan melalui pengembangan pesawat N250.
Menurut Brian, Indonesia memiliki peluang besar karena didukung bonus demografi dengan jumlah penduduk usia produktif yang tinggi. Namun, kesempatan itu diperkirakan hanya terbuka hingga sekitar tahun 2040.
Ia menilai generasi produktif saat ini harus memanfaatkan momentum tersebut dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, produktivitas, riset, serta penguasaan teknologi agar Indonesia mampu melakukan lompatan ekonomi.
Selain itu, pengembangan kendaraan listrik disebut sebagai salah satu contoh bagaimana penguasaan teknologi dapat memperkuat industri nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi dan produk luar negeri.
Brian menegaskan, potensi terbesar Indonesia bukan hanya kekayaan sumber daya alam, melainkan kualitas talenta manusianya. Ia mencontohkan talenta Indonesia yang dipercaya menjadi salah satu arsitek desain di NVIDIA sebagai bukti bahwa anak bangsa mampu berkontribusi di pusat teknologi dunia.
Namun, ia berharap semakin banyak talenta Indonesia yang dapat berkarya melalui ekosistem nasional sehingga inovasi tersebut lahir dari Indonesia dan memberi manfaat bagi bangsa.
“Kita harus bangga ketika karya anak bangsa digunakan dan ditunggu oleh dunia. Itulah beyond nationalism—nasionalisme yang diwujudkan melalui karya,” katanya.










