TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total luas lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mencapai sekitar 48.536 hektare hingga 14 September 2026.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan data tersebut merupakan hasil penggabungan data SiPongi dengan hasil pengukuran langsung tim gabungan di lapangan.
“Di Kalimantan Barat, lahan terbakar sebesar 38.310 hektare lebih, sedangkan yang kami ukur berdasarkan realita di lapangan 10.224 hektare lebih,” kata Berton, Selasa, 15 September 2026.
Berton menjelaskan, berdasarkan data tersebut, total luas lahan terbakar di Kalimantan Barat mencapai 48.536 hektare lebih.
Pada Senin, 14 September 2026, BNPB menemukan 19 titik api dengan estimasi luas lahan yang terbakar sekitar 261 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 180 hektare berhasil dipadamkan.
“Dengan rincian, dipadamkan oleh Satgas Darat sebesar 175 hektare lebih, dipadamkan oleh water bombing oleh satuan udara sebesar lima hektare lebih,” jelasnya.
Dengan demikian, masih terdapat sekitar 80 hektare lahan yang belum dipadamkan dan menjadi sasaran penanganan pada Selasa, 15 September 2026.
Untuk mempercepat penanganan, BNPB mengerahkan 14.759 personel Satgas Darat di Kalimantan Barat. Sementara itu, Satgas Udara diperkuat lima unit untuk operasi modifikasi cuaca dan sembilan unit untuk water bombing.
Berton menyebut kondisi cuaca di sejumlah wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir mulai menunjukkan adanya hujan, mulai dari hujan ringan hingga lebat.
“Hujan ringan hingga lebat terjadi di sebagian wilayah di Sambas, Sintang, Bengkayang, Kota Singkawang, dan Sekadau,” ucapnya.
Namun, kondisi jarak pandang masih rendah di sejumlah wilayah, termasuk Mempawah, Pontianak, Melawi, Sambas, Ketapang, Kubu Raya, Sintang, Kapuas Hulu, dan Kota Singkawang.
BNPB juga menyampaikan bantuan helikopter dari Jepang telah tiba di Kalimantan Barat untuk mendukung penanganan karhutla. Namun, armada tersebut belum dapat dioperasikan karena jarak pandang yang masih rendah.
“Bantuan helikopter Jepang saat ini sudah tiba di Kalimantan Barat, namun belum dapat dioperasikan karena memang visibility sangat rendah,” tandasnya.
Menurutnya, pihak Jepang akan mengoperasikan helikopter tersebut ketika jarak pandang berada pada kisaran 3.500 hingga 5.000 meter.
Meski demikian, Berton menyebut aktivitas penerbangan di Kalimantan Barat sejak Senin hingga Selasa relatif lancar, meskipun masih terdapat beberapa keterlambatan penerbangan.










