TVRINews, Papua
Warga Wanam, Papua Selatan, membantah keras narasi negatif yang disampaikan oleh sutradara film dokumenter Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono. Tuduhan mengenai adanya eksodus ratusan ribu orang akibat proyek strategis nasional (PSN) dinilai tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Sebaliknya, masyarakat setempat justru mendukung dan berharap pembangunan PSN food estate Wanam terus dilanjutkan demi kemajuan daerah.
Berdasarkan informasi yang dihimpun bahwa aktivitas pembukaan lahan saat ini masih sangat terbatas, yakni sekitar 15 kali ribu hektare. Lahan tersebut difokuskan untuk pembangunan infrastruktur vital seperti jalan, jembatan, pelabuhan, panel surya, kilang minyak, hingga fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage.
Informasi yang menyebutkan luas kawasan PSN mencapai 2,5 juta hektare juga tidak terbukti, karena total kawasan sebenarnya diperkirakan hanya sekitar 1 juta hektare. Selain itu, klaim mengenai adanya eksodus atau pengungsian massal hingga 170 ribu warga sama sekali tidak ditemukan di lapangan. Terkait ketersediaan alat berat, pesanan yang sempat disebut mencapai 2.000 unit ekskavator, realisasinya saat ini baru mencapai ratusan unit.
Di tengah bergulirnya berbagai isu miring, suara dari masyarakat asli Wanam justru menunjukkan optimisme tinggi terhadap proyek ini. Inosensio Sigipse, seorang petani yang telah 10 tahun menetap di Wanam, menyatakan dukungannya terhadap PSN. Ia sangat berharap proyek ini dapat mempermudah akses transportasi dan mendongkrak perekonomian warga yang selama ini masih kesulitan memasarkan hasil tani.
"Kalau ada pembangunan, mungkin bisa bangun perumahan dan jalan. Supaya kita jual hasil tani lebih gampang," kata pria yang akrab disapa Papa Ino, Kamis 4 Juni 2026.
Papa Ino menambahkan, kehadiran proyek berskala nasional ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat yang belum memiliki penghasilan tetap.
"Kalau ada pekerjaan di sana, kita yang nganggur bisa kerja juga," ujar dia.
Dukungan serupa juga mengalir dari kalangan tenaga pendidik. Kleopas Mause, seorang guru yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam) di Wanam, menegaskan bahwa sejak awal masyarakat menerima kehadiran PSN karena membawa dampak perubahan yang positif, meski saat ini belum sepenuhnya merata.
“Sekarang masyarakat sudah mulai terlibat kerja. Memang belum 100 persen, tapi sudah ada perubahan,” ungkapnya.
Kleopas juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur jalan penghubung yang layak untuk memfasilitasi aktivitas harian warga kampung.

(Foto: Warga Wanam, Merauke, Papua Selatan, Kleopas Mause)
“Masyarakat masih jalan kaki bawa hasil ke perusahaan. Harapannya ada jalan yang layak sampai kampung, supaya hidup bisa lebih baik,” ujarnya.
Sementara itu, tokoh dusun setempat, Laurentius Gali Blagaise, menilai riak kekhawatiran yang sempat muncul di awal proyek kini telah sirna setelah melihat dampak positif yang mulai dirasakan langsung oleh warga.
“Kalau saya lihat perubahan ini sudah bagus sekali. Masyarakat lokal juga sudah ada yang ikut kerja,” ungkap Papa Lau.
Ia berharap ke depan peluang kerja bagi generasi muda di Wanam akan semakin terbuka lebar dengan adanya proyek strategis ini.

(Foto: Warga Wanam, Merauke, Papua Selatan, Laurentius Gali Blagaise)
“Masih banyak anak muda yang mau kerja. Harapannya bisa mengurangi pengangguran,” tambahnya.
Laurentius menekankan bahwa pembangunan menjadi kunci utama agar wilayah Wanam bisa berkembang dan sejajar dengan daerah maju lainnya.
"Kita mau Wanam bisa maju ke depan, sedikit demi sedikit lebih baik,” tuturnya.
Kondisi riil di Wanam saat ini menunjukkan situasi yang kondusif dan jauh dari narasi krisis ataupun eksodus sebagaimana yang dituduhkan sebelumnya oleh sutradara film dokumenter Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono. Hingga saat ini, masyarakat justru menaruh harapan besar pada PSN untuk membawa perubahan ekonomi melalui penyediaan lapangan kerja dan infrastruktur.










