
APBN 2024 Tutup dengan Defisit Lebih Rendah dari Target
Writer: Redaksi TVRINews
TVRINews, Jakarta
Pemerintah berhasil menutup anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tahun 2024 dengan defisit yang lebih rendah dari perkiraan awal. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengumumkan bahwa defisit APBN 2024 mencapai Rp507,8 triliun atau setara 2,29% dari produk domestik bruto (PDB).
Angka ini lebih baik dari proyeksi defisit pada pertengahan tahun yang mencapai 2,70% dari PDB. Bahkan, defisit tersebut juga berada di bawah target awal yang ditetapkan dalam APBN 2024, yakni sebesar Rp522,8 triliun.
"Pencapaian ini sangat menggembirakan karena menunjukkan kinerja APBN yang lebih baik dari perkiraan,"ujar Sri Mulyani dalam keterangan yang diterima tvrinews.cc m, Selasa, 7 Januari 2025.
Salah satu faktor yang berkontribusi pada perbaikan kinerja APBN adalah melampauinya target pendapatan negara. Hingga akhir tahun 2024, pendapatan negara mencapai Rp2.842,5 triliun, atau 101,4% dari target APBN. Kenaikan pendapatan negara ini didorong oleh berbagai faktor, seperti pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dari perkiraan dan peningkatan efisiensi dalam pengelolaan penerimaan negara.
“Meski penerimaan pajak mengalami tekanan, kita bisa pulihkan kembali. Tidak mencapai target awal, tapi lebih baik dari laporan semester kita,”ucapnya.
“Tiga pendapatan negara kita dalam situasi yang begitu rentan, tidak pasti, tekanan bertubi-tubi, masih terjaga. Realisasi masih tumbuh dibandingkan 2023 yang mengalami commodity boom (lonjakan harga komoditas). Tahun 2024 mulai terkoreksi, itu kondisi yang sangat berat. Namun, pajak, bea cukai, dan PNBP bisa dijaga sehingga pendapatan negara kita tumbuh. Ini patut kita syukuri dan akan kita jaga terus,”lanjutnya.
Selain pendapatan, belanja negara juga mengalami peningkatan. Realisasi belanja negara tahun 2024 mencapai Rp3.350,3 triliun, atau 100,8% dari target APBN. Kenaikan belanja negara ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Meskipun defisit APBN berhasil ditekan, namun keseimbangan primer masih mencatat defisit sebesar Rp19,4 triliun. Keseimbangan primer merupakan selisih antara pendapatan negara dan belanja negara yang tidak termasuk pembayaran bunga utang. Defisit keseimbangan primer ini mengindikasikan bahwa pemerintah masih perlu melakukan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan pendapatan negara dan efisiensi belanja.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis di Purwakarta, 2.957 Siswa dari 9 Sekolah Ikut Serta
Editor: Redaktur TVRINews
