
Bahasa Aksara Nusantara Bertransformasi Digital, Bisa Digunakan untuk 'Chatting WhatsApp'
Penulis: Ahmad Richad
TVRINews, Jakarta
Komunikasi melalui tulisan yang dilakukan masyarakat Indonesia saat ini rata-rata menggunakan tulisan latin. Padahal, di zaman dulu, leluhur atau nenek moyang kita menggunakan beberapa bahasa dan tulisan atau yang biasa disebut aksara untuk berkomunikasi.
Bangsa Indonesia juga diketahui sangat kaya akan bahasa aksara, namun pada masa ini hanya sedikit dari masyarakat Indonesia yang paham tulisan dan bahasa leluhur itu.
Demi melestarikan warisan leluhur tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, hari ini melakukan pertemuan dengan Pengelolaan Nama Domain Internet Indonesia (PANDI).

Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan, dan Prestasi Olahraga Kemenko PMK, Didik Suhardi mengucapkan rasa syukurnya dan berterima kasih kepada para pegiat Aksara Nusantara dan PANDI yang telah berupaya melakukan digitalisasi seluruh aksara di Indonesia.
"Sehingga kita sekarang secara resmi sudah punya aksara Nusantara yang tentu nanti kita daftarkan ke ICANN sebagai pengelola jaringan internet internasional, sehingga nanti seluruh aksara Nusantara ini bisa digitalisasi," kata Didik usai pertemuan dengan PANDI di Jakarta, Rabu (8/12).
Lebih lanjut Didik menjelaskan jika nanti aksara Nusantara ini sudah seluruhnya dilakukan digitalisasi maka kita yang selama ini berkomunikasi menggunakan bahasa latin bisa menggunakan bahasa aksara tanpa adanya kesulitan.
"Seperti tadi yang disampaikan oleh para pegiat bahwa kita masih punya 17 aksara Nusantara yang berpotensi untuk di daftarkan ke ICANN, maka nanti kami akan mengundang kementerian dan lembaga terkait seperti Kemdikbud Ristek dan Kominfo untuk kita koordinasikan," ucapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Konseptor Rancangan SNI Aksara Nusantara PANDI, Heru Nugroho mengatakan bahwa saat ini sudah ada setidaknya 30 aksara daerah yang sudah teridentifikasi sebagai aksara nusantara dan sedang didorong menuju digitalisasi.
Aksara yang dimaksud di antaranya, Batak, Bima, Lontara Bilang-bilang, Budha, Incung, Jangang-jangang atau burung, Kawi atau Jawa Kuno, Lampung, Bugis, Lota, Arab-Manudara, Serang, Jontal, Gayo, Gorontalo, Dayak, Kanum, Malesung, Minangkabau, Palembang, Rikahara
"Namun ada tiga aksara nusantara yang sudah SNI di antaranya aksara Sunda, Jawa dan Bali. Ke depan kita daftarkan ke Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN)," kata Heru Nugroho.
Lebih lanjut Heru menjelaskan digitalisasi aksara di Unicode adalah suatu standar teknis pengkodean internasional mengenai teks dan simbol dari sistem tulisan di dunia untuk ditampilkan pada perangkat komputer, laptop, atau ponsel.
Ketiga aksara nusantara tersebut telah mendapatkan SNI untuk papan tombol dan fon aksara dari Badan Standarisasi Nasional (BSN).
"Nanti kehadiran aksara dalam bentuk digital bisa berupa papan ketik pada ponsel yang memudahkan masyarakat berkirim pesan menggunakan bahasa warisan leluhur di aplikasi chatting," ujar Heru.
Pada pemanfaatan aksara digital yang lebih luas, kata Heru, bisa diintegrasikan dengan sistem keamanan perbankan.
"Password perbankan bisa pakai aksara nusantara. Kalau kita mengkoding sistem pertahanan digital pakai aksara Nusantara, siapa yang bisa menembus," tuturnya.
