
Tradisi Nyadran di Plemburan Tegal: Wujud Penghormatan Leluhur Sambut Ramadan
Writer: Redaksi TVRINews
TVRINews, Tegal
Masyarakat Jawa memiliki tradisi yang kaya dan unik dalam menyambut bulan suci Ramadan, salah satunya adalah tradisi nyadran.
Di wilayah Plemburan, Tegal, RW 24 dan 25, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, warga setempat melaksanakan tradisi ini dengan penuh khidmat.
Nyadran dilaksanakan pada bulan Ruwah dalam penanggalan Jawa, atau bulan Syakban dalam kalender hijriyah.
Ritual ini merupakan wujud penghormatan kepada leluhur, yang dilakukan melalui ziarah ke makam keluarga, berdoa, dan membersihkan area pemakaman.
Tradisi nyadran merupakan hasil akulturasi antara budaya Jawa dan Islam, yang hingga kini tetap dijalankan, terutama di pedesaan di mana nilai-nilai adat istiadat masih kental.
Di Plemburan, warga Bumi Sembada memulai nyadran dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh seorang tokoh agama setempat.
Asal mula tradisi nyadran diyakini berakar dari pengaruh ajaran Hindu-Buddha di Pulau Jawa yang kemudian berakulturasi dengan ajaran Islam.
Kata "nyadran" sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yakni "sraddha," yang berarti keyakinan.
Praktik ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit dan terus bertahan hingga kini, mengalami berbagai modifikasi sesuai dengan perkembangan zaman.
Tradisi nyadran dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat. Kegiatan utama dalam ritual ini adalah membersihkan makam keluarga dari rumput dan kotoran.
Lebih dari sekadar ziarah, nyadran juga memiliki makna sosial yang mendalam.
Tak heran jika banyak perantau yang pulang kampung khusus untuk mengikuti ritual ini, terutama menjelang bulan Ramadan.
Pelaksanaan tradisi nyadran bervariasi di setiap daerah, mengacu pada kearifan lokal masing-masing.
Di sejumlah wilayah, seperti Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, tradisi ini disertai dengan kirab budaya atau arak-arakan menuju makam leluhur.
Sementara di daerah lain, nyadran bisa lebih sederhana, hanya dengan menggelar doa bersama di kompleks pemakaman keluarga.
Seiring dengan kemajuan zaman, tradisi nyadran tetap eksis di tengah arus modernisasi.
Banyak generasi muda yang masih menghormati dan mengikuti ritual ini sebagai bentuk penghormatan kepada budaya leluhur.
Upaya ini diharapkan dapat menjaga agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi ini tidak hilang seiring berjalannya waktu.
Editor: Redaktur TVRINews
