
Writer: Lidya Thalia.S
TVRINews, Tanjung Palas Timur
Tradisi telinga panjang yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Dayak di Kalimantan Utara masih dijaga oleh generasi tua, meski kini mulai jarang dilakukan oleh generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Sulo Lahang (76), yang akrab disapa Pesulo, saat ditemui di Desa Metun Sajau, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kamis.
Pesulo menjelaskan, tradisi telinga panjang merupakan budaya leluhur yang telah dilakukan sejak zaman nenek moyang. Prosesnya dimulai sejak usia anak-anak dengan memasang pemberat pada telinga secara bertahap hingga memanjang.
“Dari kecil telinga sudah dibuatkan. Dikasih pemberat-pemberat supaya telinganya memanjang,” ujar Pesulo dalam keterangan yang diterima tvrinews di Kalimantan Utara, Kamis, 29 Januari 2026.
Pemberat tersebut umumnya terbuat dari bahan logam seperti tembaga atau kuningan yang bentuknya menyerupai anting bulat. Seiring waktu, ukuran dan beratnya akan ditambah agar telinga semakin memanjang.
“Modelnya seperti anting bulat. Semakin banyak dan semakin berat, telinganya akan semakin panjang,” jelasnya.
Namun, Pesulo mengakui bahwa tradisi tersebut kini tidak lagi diwajibkan bagi generasi muda. Perkembangan zaman membuat sebagian anak-anak muda enggan melanjutkan kebiasaan tersebut karena dianggap kuno.
“Sekarang tidak terlalu diwajibkan lagi. Anak-anak zaman sekarang banyak yang tidak suka, katanya kelihatan kuno,”ucapnya.
Meski demikian, tidak ada aturan hukum adat yang secara khusus mewajibkan masyarakat untuk tetap melakukan tradisi telinga panjang. Karena itu, para orang tua hanya bisa berharap tanpa memaksakan.
“Kami tidak bisa memaksa, karena memang tidak ada hukum adat yang mengharuskan,”lanjutnya.
Ia berharap generasi muda tetap menjaga nilai-nilai budaya dan tidak sepenuhnya meninggalkan warisan leluhur, meski tidak semua tradisi dapat dijalankan secara utuh.
“Harapan orang tua itu jangan sampai budaya kita hilang. Walaupun memang ada yang tidak bisa diikuti oleh generasi sekarang,”ungkapnya.
Menurut Pesulo, semangat untuk mempertahankan identitas budaya harus tetap hidup, meski bentuk pelaksanaannya dapat menyesuaikan perkembangan zaman.
“Yang penting semangatnya tetap ada. Jangan sampai ikut arus dunia sampai melupakan jati diri,”tuturnya.
Editor: Redaktur TVRINews
