
Foto: Tangkapan Layar Youtube BPS
Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Meski ada tantangan cuaca, distribusi pangan tetap terjaga kuat di berbagai wilayah utama.
Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan adanya koreksi pada angka produksi beras nasional untuk periode lima bulan pertama tahun 2026.
Penurunan ini dipicu oleh menyusutnya luas panen serta dinamika masa tanam di awal tahun yang berdampak pada ketersediaan gabah secara kumulatif.
Berdasarkan data terbaru yang dirilis pada Rabu 1 April 2026, Produksi beras dalam kurun Januari hingga Mei 2026 diperkirakan berada di angka 16,57 juta ton.
Angka tersebut menunjukkan kontraksi sebesar 0,38 juta ton atau setara dengan 2,22% dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa penurunan ini merupakan konsekuensi langsung dari melandainya produksi padi atau Gabah Kering Giling (GKG).
Meski sempat mencatatkan performa impresif pada Februari lalu, tren produksi ke depan diprediksi tidak akan sekuat tahun 2025.
"Produksi padi sepanjang Januari sampai dengan Mei tahun 2026 diperkirakan mencapai 28,77 juta ton GKG. Ini mengalami penurunan sebesar 0,65 juta ton GKG, atau sekitar 2,22 persen jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun lalu," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta.
Analisis Luas Panen dan Faktor Eksternal
Penurunan volume produksi ini berjalan beriringan dengan penyusutan luas lahan panen. BPS memperkirakan total luas panen untuk periode Maret hingga Mei 2026 hanya mencapai 3,85 juta hektare, angka yang merosot 10,60% secara tahunan. Secara kumulatif, luas panen hingga Mei mendatang diprediksi bertahan di angka 5,35 juta hektare.
Namun, Ateng memberikan catatan bahwa angka-angka tersebut masih bersifat dinamis. Terdapat variabel lingkungan yang dapat mengubah proyeksi akhir di lapangan.
"Angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman, seperti serangan hama, banjir, kekeringan, hingga pergeseran waktu panen oleh petani," tambah Ateng.
Data dari Kerangka Sampel Area (KSA) menunjukkan bahwa pada Februari 2026, sekitar 51,79% lahan berada dalam fase standing crop. Mayoritas lahan tersebut berada pada fase generatif yang dipersiapkan untuk masa panen di bulan Maret.
Dinamika Harga dan Kesejahteraan Petani
Di saat volume produksi menunjukkan tren penurunan, pasar domestik justru menghadapi tekanan harga.
BPS mencatat kenaikan harga beras terjadi secara merata di seluruh rantai distribusi. Di tingkat penggilingan, harga beras secara rata-rata nasional meningkat 0,54% secara bulanan (month-to-month), sementara pada kategori beras premium, kenaikan mencapai 1,8%.
Di sisi lain, Nilai Tukar Petani (NTP) sebagai indikator kesejahteraan menunjukkan penurunan tipis sebesar 0,08% pada Maret 2026, berada di level 125,35.
Hal ini terjadi karena peningkatan biaya yang harus dibayar petani lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga komoditas yang mereka terima.
Meskipun wilayah lumbung pangan seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat tetap menjadi tumpuan produksi nasional, tantangan cuaca dan distribusi curah hujan tetap menjadi faktor krusial yang dipantau ketat oleh otoritas terkait guna menjaga stabilitas pangan nasional sepanjang sisa semester pertama tahun ini.
Editor: Redaktur TVRINews
